Minyak Melonjak Karena Penurunan Pasokan Bensin AS

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Minyak mengalami kenaikan paling besar dalam tiga minggu terakhir setelah stok minyak mentah di AS menurun yang paling besar sejak April seiring kilang minyak memperbanyak tingkat operasinya.

Persediaan bensin turun 3,26 juta barel pada pekan lalu, diambil dari laporan Energy Information Administration. Stok minyak di sepanjang Pantai Timur, di mana kontrak berjangka dikirim, jatuh dari rekor paling tinggi bulan lalu. Permintaan minyak mentah di kilang melonjak ke angka 266.000 barel per hari dari minggu sebelumnya. Produksi minyak mentah merosot sementara impor meningkat.

Harga minyak telah anjlok lebih dari 20 % dari rekornya bulan Juni, memenuhi definisi umum dari pasar bearish dan diakhiri pemulihan yang melihat harga minyak menjadi dua kali lipat dari level 12 tahun terendah pada bulan Februari. Analis dari Citigroup Inc untuk Bank of America Merrill Lynch yakin penurunan akan berlangsung singkat dan investor membayar premi terkecil dalam dua bulan untuk melindungi terhadap anjloknya minyak mentah dari sekarang sampai akhir tahun.

WTI untuk pengiriman September naik $ 1,32 atau 3,3 %, menjadi ditutup pada level $ 40,83 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini adalah kenaikan terbesar sejak 12 Juli. Kontrak menyentuh level $ 39,19 sebelumnya, harga intraday terendah sejak 18 April. Jumlah volume yang diperdagangkan adalah 11 % di atas 100-hari rata-rata pada pukul 02:46 siang waktu setempat.

Brent untuk pengiriman Oktober menguat US $ 1,30 atau 3,1 %, ke level $ 43,10 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Tolok ukur global ditutup pada $ 1,52 premium hingga Oktober dibandingkan minyak mentah WTI. (Bloomberg)

Seperti diketahui, harga minyak reli dari posisi paling rendah dalam 12 tahun di kisaran US$ 26-US$ 27 per barel pada kuartal I. Kemudian harga minyak sempat berada di US$ 53 pada Juni didorong adanya harapan, dan OPEC akan membekukan produksi.

Akan tetapi, melimpahnya minyak di seluruh dunia telah menghentikan reli harga minyak. Kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi di Asia, yang menjadi penggerak pertumbuhan permintaan minyak menjadi pertimbangan. Ditambah tanda-tanda perang harga minyak oleh Arab Saudi.

Troy Vincent, Analis ClipperData mengatakan, pasokan bensin turun mengimbangi keseimbangan harga minyak dunia. Supply minyak berlebih ini membuat para pelaku pasar memprediksi harga minyak masih tertekan.

“Kami berharap untuk melihat sedikit konsolidasi harga, tapi target kami US$ 35 untuk harga minyak acuan AS,” ujar Matthew Tuttle, Chief Executive Tuttle Tactical Management.

Sedangkan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak di kisaran US$ 52,50 pada 2017. Sedangkan harga minyak acuan AS di kisaran US$ 45-US$ 50.(http://bisnis.liputan6.com)

RIFAN FINANCINDO