Minyak Lanjutkan Penurunan Ke Level Terendahnya

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO

RIFANFINANCINDO – Minyak lanjutkan penurunan mendekati penutupan terendah dalam lebih dari sepekan terakhir ditengah stok minyak mentah AS secara tak terduga meningkat, sehingga menjaga persediaan minya di level tertinggi dalam setidaknya tiga dekade dengan periode puncak permintaan musim panas mendekati akhirnya.

Minyak berjangka sedikit berubah di New York setelah jatuh 2,8% pada Rabu. Persediaan naik 2,5 juta barel pekan lalu, menurut Administrasi Informasi Energi. Perkiraan rata-rata dalam survei Bloomberg memproyeksikan penurunan. Irak akan menghadiri pembicaraan resmi OPEC bulan depan di Algiers, Deputi Menteri Perminyakan Fayyad Al-Nima mengatakan dalam sebuah wawancara telepon.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober di $ 46,83 per barel di New York Mercantile Exchange, naik 6 sen, pada 07:25 pagi di Hong Kong. Kontrak turun $ 1,33 ke level $ 46,77 pada hari Rabu, penutupan terendah sejak 16 Agustus. Jumlah volume perdagangan sekitar 83% di bawah 100-hari rata-rata.(Bloomberg)

Harga Minyak Dunia Merosot 3% Saat Pasokan AS Bertambah

 

Harga minyak mentah dunia kembali merosot sekitar 3% lebih rendah, saat pasokan minyak AS secara mengejutkan bertambah untuk menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan. Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengatakan persediaan minyak mentah 2,5 juta barel pekan lalu, atau meningkat pesat dibandingkan perkiraan analis sebesar 500.000 barel.

Dilansir Reuters, Kamis (25/8/2016) EIA juga mengatakan ada kenaikan pada beberapa saham energi, saat spekulasi seputar pembekuan produksi minyak dunia oleh Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) masih mencuat. Tercatat minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun USD1,33 atau setara dengan 2,8% ke level USD46,77 per barel.

Sementara minyak mentah berjangka Brent juga anjlok sebesar 91 sen atau 18% menjadi USD49,05 per barel. Di sisi lain beberapa saham Gasoline di US Gulf Coast mencapai posisi tertinggi selama semusim yang belum terlihat kembali sejak 2013.

Harga minyak telah bergerak variatif sepanjang bulan ketika kekhawatiran membanjirnya pasokan kembali datang saat spekulasi rencana OPEC untuk membatasi produksi diyakini belum akan terjadi. Ide serupa seoal produksi juga pernah gagal pada April lalu, untuk membuat pandangan analis tetap skeptis.

“Saat ini ada kelompok yang ingin membekukan apapun itu, tapi kita belum melihat substansi kuat di balik alasan mereka,” terang Manajer Direktur PetroMatrix Olivier Jakob sebuah konsultan energi di Zug, Swiss. ( http://ekbis.sindonews.com )

 

RIFANFINANCINDO