Minyak Lanjutkan Pelemahan Dengan Iran Sanksikan Proposal Arab Saudi dan Rusia

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak memperpanjang penurunan setelah Iran mengatakan proposal yang dicetus Arab Saudi dan Rusia bagi produsen untuk membekukan produksinya adalah “tidak masuk akal” karena negara Teluk Persia tersebut berusaha untuk meningkatkan ekspor setelah terkena sanksi selama bertahun-tahun.

Minyak berjangka turun sebanyak 2 persen di New York. Usulan untuk membatasi produksi pada tingkat bulan Januari menempatkan “tuntutan yang tidak realistis” terhadap Iran, Menteri Minyak Bijan Namdar Zanganeh mengatakan pada hari Selasa, menurut kantor berita kementerian Shana. Ali Al-Naimi, rekannya dari Arab Saudi, mengatakan pada konferensi di Houston bahwa produsen berbiaya tinggi harus menanggung beban mengurangi surplus saat ini dan menegaskan kembali komitmen kerajaan terhadap kesepakatan pada minggu lalu.

Minyak mentah turun 15 persen tahun ini karena spekulasi berlimpahnya pasokan minyak global akan bertahan di tengah meningkatnya persediaan AS dan prospek untuk meningkatkan pengiriman dari Iran. Cadangan minyak mentah AS naik 7,1 juta barel pekan lalu, American Petroleum Institute mengatakan dalam laporannya hari Selasa.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman April turun sebanyak 62 sen menjadi $ 31,25 per barel di New York Mercantile Exchange dan berada di $ 31,37 pada pukul 09:01 pagi waktu Hong Kong. Kontrak untuk bulan itu kehilangan $ 1,52, atau 4,6 persen, ke $ 31,87 pada Selasa kemarin. Total volume yang diperdagangkan adalah sekitar 5 persen di atas rata-rata 100-hari.

Minyak Brent untuk pengiriman April turun sebanyak 34 sen, atau 1 persen, ke $ 32,93 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Harga Brent turun $ 1,42 $ 33,27 pada Selasa kemarin. Minyak mentah acuan Eropa diperdagangkan lebih besar $ 1,55 dari WTI.(frk)

Sumber: Bloomberg