Minyak Dunia Tertekan Akibat Perang Dagang

ff58506e-f660-4b57-8723-1cbeb92ea5fe_169RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia merosot sekitar 1 persen pada perdagangan Senin (11/2), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh kekhawatiran terkait pembahasan perdagangan AS-China yang berjalan lambat.

Dilansir dari Reuters, Selasa (12/2), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,49 atau 0,8 persen menjadi US$61.61 per barel pada pukul 12:53 EST.
Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,65 atau 1,2 persen menjadi US$52,07 per barel.

Pembahasan perdagangan antara AS-China kembali berlangsung dengan diskusi kelompok kerja sebelum beralih ke diskusi tingkat tinggi pekan ini.

Dalam diskusi, China meluapkan kemarahan atas misi Angkatan Laut AS di Laut China Selatan yang tengah disengketakan. Hal ini membayangi upaya kedua negara untuk mencapai kesepakatan sebelum 1 Maret 2019 saat AS memberlakukan kenaikan tarif sebesar dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap impor produk China yang bernilai US200 miliar.

Pada Kamis (7/2) lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan ia tidak berencana untuk bertemu dengan Presiden China Xi Jin Ping sebelum tenggat waktu 1 Maret. Hal itu memupuskan harapan terhadap terjadinya kesepakatan perdagangan dalam waktu singkat.

Padahal, eskalasi tensi perdagangan AS-China telah merugikan kedua negara hingga miliaran dolar, mengganggu aliran bisnis dan perdagangan global, serta menimbulkan gejolak di pasar keuangan.

“Banyak sekali ketidakpastian tentang apa yang terjadi dengan perang dagang, apakah mereka akan menyelesaikan sesuatu,” ujar Analis Perminyakan Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Flynn menambahkan pasar juga diliputi oleh kekhawatiran terhadap perlambatan perekonomian. Kendati demikian, harga minyak telah terangkat tahun ini oleh kesepakatan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Kelompok ini dikenal dengan sebutan OPEC+.

Kesepakatan yang berlaku efektif sejak Januari 2019 lalu tersebut dilakukan dengan memangkas 1,2 juta barel per hari hingga akhir Juni 2019 mendatang. Hal itu dilakukan untuk mengurangi banjirnya pasokan di pasar.

Pada Senin (11/2) kemarin, Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei bilang pasar minyak akan mencapai kondisi keseimbangan pada kuartal I 2019.
OPEC dan sekutunya bakal bertemu pada 17-18 April 2019 di Wina, Austria. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi kesepakatan pemangkasan.

Sementara itu, sanksi AS terhadap Venezuela bersama dengan sanksi terhadap Iran juga turut menahan harga minyak mentah untuk tidak tertekan lebih dalam.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah meminta dukungan OPEC terhadap pengenaan sanksi tersebut. Hal itu dilakukan dengan mengingatkan efek pengenaan sanksi terhadap harga minyak dan potensi risiko bagi anggota lain di kelompok produsen tersebut.

Awal pekan ini, Menteri Perminyakan Venezuela Manuel Quevedo menyatakan Venezuela juga ingin melipatgandakan penjualan minyaknya ke India dan terbuka untuk menggunakan skema pembayaran barter dengan konsumen minyak mentah ketiga di dunia itu.

 

Sumber : www.cnnindonesia.com

Leave a Reply