Minyak ditutup di level 10 minggu terendah

RIFAN FINANCINDO – Harga minyak anjlok pada hari Selasa, dengan minyak acuan AS menetap di level 10 minggu terendah.

Para pedagang khawatir atas banyaknya stok minyak mentah dan produk minyak bumi serta potensi perlambatan untuk permintaan energi di belakang prospek ekonomi global di bawah IMF.

Agustus mentah West Texas Intermediate turun 59 sen, atau 1,3%, untuk menetap di level $ 44,65 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah kehilangan 1,6% sehari sebelumnya. Itu merupakan level penutupan terburuk sejak 9 Mei silam. Kontrak WTI Agustus berakhir di level penetapan Rabu, yang mana sering membuat volatilitas jual-beli terjadi.

Brent September di bursa ICE Futures London turun 30 sen, atau 0,6%, berakhir di level $ 46,66 per barel.

Minyak berjangka jatuh pada hari Senin setelah keterangan bahwa kudeta di Turki selama akhir pekan tidak membuat aliran minyak dan gas alam terganggu. Setiap gangguan pasokan di pasar akan diatasi dengan cadangan yang diambil dari surplus. ( MarketWatch )

Sedangkan harga minyak mentah Brent, yang merupakan patokan harga minyak dunia, turun 30 sen atau 0,6 persen ke angka US$ 46,66 per barel di ICE Futures Europe.

Kelebihan pasokan minyak mentah di dunia membuat harga minyak turun pada 2014 dan 2015 dari level paling tinggi sepanjang masa. Minyak sempat menyentuh angka US$ 110 per barel pada awal 2014 lalu namun kemudian anjlok sejak pertengahan 2014 dan semakin tertekan pada 2015.

Penurunan harga minyak karena dunia mengalami surplus minyak mentah dan para produsen tak mau membatasi produksi meskipun terjadi kelimpahan pasokan.

Pasokan minyak mentah yang berlimpah tersebut terus diolah oleh para produsen menjadi bahan bakar minyak (BBM) sehingga membuat supply minyak olahan berlebih. Padahal, kondisi ekonomi dunia sedang turun sehingga permintaan akan minyak olahan juga menurun.

Para analis melihat, pada libur musim panas di Amerika biasanya digunakan untuk liburan menggunakan kendaraan pribadi sehingga memacu konsumsi BBM. Namun pada tahun ini hal tersebut tidak terjadi. penjualan minyak olahan tidak berubah sehingga gagal mendorong penurunan cadangan minyak olahan.

“Kelebihan pasokan masih menjadi pengamatan banyak kalangan saat ini,” tulis Guttman Energy dalam catatan kepada para nasabah. Produksi minyak mentah masih memenuhi kilang-kilang dan belum ada tanda-tanda kenaikan pembelian,” lanjut catatan tersebut.

The Energy Information Administration akan merilis data persediaan minyak mentah dan minyak olahan untuk minggu yang ditutup pada 15 Juli pada Rabu waktu setempat.

Para pengamat yang disurvei oleh Wall Street Journal berharap lembaga tersebut melaporkan bahwa cadangan minyak mentah di AS melemah 1,7 juta barel pada pekan lalu dan persediaan minyak olahan atau BBM melemah 100 ribu barel.

Sedangkan The American Petroleum Institute menegeluarkan pernyataan pada seminggu kemarin terjadi pengurangan persediaan minyak mentah sebesar 2,3 juta barel dan menguatnya stok BBM sebesar 800 ribu barel. ( http://bisnis.liputan6.com )

 

PT Rifan Financindo

Rifan Financindo

Disclaimer: Semua informasi yang terdapat dalam website kami ini hanya bersifat informasi saja. Kami berusaha menyajikan berita terbaik, namun demikian kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapan dari semua informasi atau analisa yang tersedia. Kami tidak bertanggung jawab terhadap semua kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang dialami oleh pembaca atau pihak lain akibat menggunakan informasi dari website kami ini. Kami berhak mengatur dan menyunting isi saran atau tanggapan dari pembaca atau pengguna agar tidak merugikan orang lain, lembaga, ataupun badan tertentu serta menolak isi berbau pornografi atau menyinggung sentimen suku, agama dan ras.