Minyak Brent Menetap di Atas USD50/Barel

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah dunia menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Senin waktu setempat. Minyak Brent menetap di atas USD50 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus.

Sementara itu, harga minyak mentah AS mencapai level tertingginya dalam tiga bulan, setelah Iran mendesak perlunya produsen minyak lain untuk bergabung dengan negara anggota OPEC dalam mendukung pasar. ?Reuters melansir, Selasa, 4 Oktober, minyak Brent ditutup naik 70 sen atau 1,4 persen menjadi USD50,89 per barel. Kenaikan pertama yang mendekati USD50 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus. Brent sebelumnya mencapai puncak tertingginya di posisi USD51,14 per barel.

Sedangkan untuk harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 57 sen atau 1,2 persen ke level USD48,81. Sebelumnya, harga minyak mentah AS ke posisi USD49,02, tertinggi sejak 5 Juli.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kepada rekannya Presiden Venezuela Nicol?s Maduro melalui pembicaraan di telepon bahwa penting bagi negara-negara penghasil minyak untuk mengambil keputusan menaikkan harga minyak dan menstabilkan pasar.

Pernyataan Rouhani ini membuat pasar bersemangat dan bullish sejak Rabu setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak mengumumkan rencana pemangkasan produksi setelah delapan tahun absen.(http://ekonomi.metrotvnews.com)

 

Harga Minyak Naik ke Posisi Tertinggi dalam 3 Bulan

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik ke level tertinggi dalam tiga bulan seiring optimisme baru dari kesepakatan output minyak negara-negara anggota OPEC.

Melansir laman Wall Street Journal, Selasa (4/10/2016), minyak mentah jenis light sweet untuk permintaan November ditutup naik 57 sen, atau 1,2 persen menjadi US$ 48,81 per barel di New York Mercantile Exchange.

Kenaikan ini merupakan yang keempat berturut-turut, dan kesembilan kali dalam 11 sesi terakhir. Ini adalah penutupan tertinggi sejak 1 Juli.

Sementara Brent, patokan minyak global, naik 70 sen atau 1,4 persen menjadi US$ 50,89 per barel. Ini kenaikan terbesar harian sejak 8 September dan penyelesaian tertinggi sejak 18 Agustus.

Pedagang dan manajer keuangan telah dibantu langkah terkoordinasi OPEC untuk mengurangi output minyak menjadi di kisaran 32,5 juta dan 33 juta barel per hari, sejak organisasi ini mengadakan pertemuan di Aljazair.

Namun, beberapa pengamat pasar yakin bahwa kesepakatan OPEC masih bisa melenceng dari perjanjian awal.

“Sementara masih banyak mengungkapkan skeptisisme bahwa perjanjian ini akan menurunkan pasokan,” kata Phil Flynn, Analis Pasar Senior Price Futures Group di Chicago.

Dia menambahkan, untuk pertama kali dalam hampir 8 tahun kartel telah sepakat untuk membatasi produksi.

“Kita akan melihat kartel sekali lagi memiliki kahlian untuk memainkan harga dengan menahan pasokan,” tambah dia.

Harga minyak telah melemah pada hari sebelumnya karena sikap skeptisisme dan faktor lainnya. Setelah hampir satu minggu mengalami kenaikan tajam.

Morgan Stanley yang berbasis di New York juga mengatakan risiko kekecewaan atas kesepakatan OPEC yang tinggi.

Menurut Morgan Stanley perlu pembicaraan lebih lanjut terutama dengan produsen non-OPEC utama seperti Rusia, untuk memastikan bahwa sentimen positif selama satu minggu terakhir tidak cepat hilang. (http://bisnis.liputan6.com)