Minyak Bertahan Dibawah $ 45 Terkait Melimpahnya Stok Minyak Mentah AS

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Minyak bertahan di bawah $ 45 per barel jelang perkiraan data pemerintah AS yang akan menunjukkan stok minyak mentahnya yang semakin melimpah untuk minggu ketiga di negara konsumen minyak terbesar dunia tersebut.

Minyak berjangka naik sebesar 0,8 persen di New York, memangkas penurunan 4,2 persen selama dua hari sebelumnya. Persediaan mungkin meningkat sebanyak 1,75 juta barel pekan lalu, menurut survei Bloomberg sebelum laporan Administrasi Informasi Energi hari Rabu nanti. Sementara OPEC memangkas perkiraan untuk pasokan dari luar kelompok pada tahun 2016, mereka masih melihat sedikit kenaikan produksi pada tahun depan, menurut laporan bulanan pasar.

Minyak telah menurun lebih dari 25 persen dari puncak penutupannya tahun ini pada bulan Juni lalu di tengah tanda-tanda melimpahnya pasokan global yang mendorong harga ke level terendahnya enam tahun akan berkepanjangan. Goldman Sachs Group Inc bahkan memiliki cadangan pasokan yang lebih besar dan sempat berpikir untuk dapat mendorong harga serendah $ 20 per barelnya.

Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Oktober naik sebanyak 33 sen menjadi $ 44,33 per barel di New York Mercantile Exchange, dan diperdagangkan di $ 44,29 pada 09:41 pagi waktu Sydney. Kontrak turun 63 sen menjadi $ 44 pada hari Senin. Volume semua minyak berjangka yang diperdagangkan adalah sekitar 72 persen di bawah rata-rata 100-harinya. Harga tersebut telah menurun sebesar 17 persen tahun ini.

Brent untuk pengiriman Oktober, yang berakhir Selasa, turun $ 1,77, atau 3,7 persen, ke $ 46,37 per barel di ICE Futures yang berbasis di London Europe exchange, Senin. Kontrak November yang lebih aktif turun $ 1,69 ke $ 47,35. Minyak mentah acuan Eropa mengakhiri sesi dengan premi sebesar $ 2,37 untuk WTI.(mrv)

Sumber: Bloomberg