Minyak Berakhir di Level Tertingginya

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak ditutup di level tertingginya dalam waktu sekitar seminggu menjelang update terbaru pada pasokan minyak AS, karena para pedagang yang mempertimbangkan kemungkinan bahwa para produsen utama akan mencapai kesepakatan untuk mengurangi produksi di akhir bulan ini.

Minyak mentah Oktober West Texas Intermediate berada di 67 sen, atau 1,5%, untuk berakhir di $ 45,50 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak ini membukukan keuntungan selama dua sesi perdagangan terakhir, menyusul penurunan empat sesi sebelumnya. Minyak mentah Brent November di London?s ICE Futures exchange naik 72 sen, atau 1,5%, ke $ 47,98 per barel.

Angka keduanya dari harga tersebut memperlihatkan bahwa minyak mentah berakhir pada level terkuat sejak 30 Agustus.(MarketWatch)

Spekulasi OPEC Stabilkan Produksi Bikin Harga Minyak Naik

Harga minyak dunia naik 1,5 persen seiring pelaku pasar fokus pada peluang produsen utama minyak dunia setuju untuk mengendalikan produksi minyak.

Gerak harga minyak bervariasi juga karena menanti data pasokan AS. Harga minyak dunia untuk jenis Brent naik 72 sen menjadi US$ 47,98 per barel usai bergerak di kisaran US$ 46,97-US$ 48,10.

Sedangkan harga minyak jenis AS naik 67 sen ke level US$ 45,50. Sebelumnya harga minyak itu bergerak di sekitar harga US$ 44,55-US$ 45,58.

Harga minyak sempat sentuh level tertinggi dalam satu pekan pada awal minggu ini. Hal itu imbas Rusia dan Arab Saudi sepakat kerja sama menstabilkan pasar minyak.

Harga minyak telah anjlok karena tidak adanya kepastian terutama usai pertemuan di Doha pada April yang berakhir kegagalan untuk merumuskan hasil produksi produsen utama minyak.

“Pasar terus menjadi reaktif terhadap klaim kerja sama OPEC dan Rusia. Ini memberi keraguan atas diskusi dan pembicaraan mereka soal potensi koordinasi,” tutur Partner Again Capital LLC John Kilduff seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (8/9/2016).

Negara OPEC dan Non OPEC seperti Rusia diharapkan membicarakan pengendalian produksi minyak pada pembicaraan informal di Aljazair pada 26-28 September 2016.

“Secara umum kita akan melihat harga masih di bawah tekanan. Pertemuan mendatang tidak akan menghasilkan banyak. Jika OPEC setuju membekukan produksi minyak, maka ini adalah rekor,” ujar Analis Tyche Capital Advisor Tariq Zahir.

Selain pertemuan OPEC, data cadangan minyak mentah AS juga jadi sorotan. Diperkirakan persediaan minyak mentah AS tumbuh sekitar 200 ribu barel pekan lalu setelah naik selama dua bulan berturut-turut. ( http://bisnis.liputan6.com/ )

PT RIFAN FINANCINDO