Meski dollar perkasa, harga emas melompat 1%

PT Rifan Financindo

RifanFinancindo

RIFANFINANCINDO – Harga emas dunia berhasil bangkit dari keterpurukan pada akhir transaksi semalam (3/1). Data yang dihimpun CNBC menunjukkan, harga emas di pasar spot ditutup dengan kenaikan US$ 7,89 atau 0,7% menjadi US$ 1.160,10 per troy ounce.

Sedangkan harga kontrak emas untuk pengantaran Februari berada di posisi US 1.162,10 per troy ounce.

Harga emas tetap mendaki kendati dollar AS menunjukkan taringnya. Asal tahu saja, indeks dollar AS diperjualbelikan menguat 0,85% pada Selasa (3/1), setelah perkasa lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.

Sebelumnya, harga emas jatuh tajam setelah Donald Trump memenangkan pemilu AS pada November lalu, di mana emas turun drastis lebih dari 12% pada kuartal empat.

Kemenangan Trump mengerek dollar dan menyebabkan reli tajam pada yield surat utang AS. Kondisi ini membuat penanam modal perlahan-lahan meninggalkan emas.

“Market membawa sentimen penguatan dollar, kenaikan yield, dan saham ke transaksi 2017. Ini tentu saja menjadi tantangan bagi emas,” kata Saxo Bank’s head of research Ole Hansen. Tapi dia menilai, masih ada sejumlah sentimen positif bagi emas.

“Kita memiliki sejumlah kejadian berisiko pada bulan ini. Salah satu yang terbesar adalah Donald Trump akan resmi menjadi presiden AS pada 20 Januari mendatang,” paparnya.

Sentimen lain yang juga mempengaruhi emas adalah hedge fund dan money manager memangkas posisi beli mereka di COMEX gold ke level paling rendah dalam 11 bulan terakhir. Mereka juga memangkas taruhan bullish pada kontrak perak pada pekan yang berakhir 27 Desember.

Permulaan yang kuat sejak awal 2016 membuat emas berhasil mencatatkan kenaikan tahunan di akhir tahun lalu sebesar 8,5%.

Di sisi lain, ada indikasi bahwa The Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada tahun ini. Sentimen ini dipastikan akan menekan emas.

Penguatan dollar gerus kinerja minyak

 

Harga minyak dunia merosot dari posisi tertingginya dalam 18 tahun terakhir tadi malam (4/1). Berdasarkan data CNBC, pada pukul 14.36 waktu New York, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate tercatat turun 2,6% atau US$ 1,39 menjadi US$ 52,33 per barel.

Sedangkan harga minyak Brent ditutup dengan penurunan US$ 1,45 atau 2,6% menjadi US$ 55,37 per barel.

Padahal pada transaksi sebelumnya, kedua kontrak harga minyak ini sempat berada di posisi tertingginya sejak Juli 2015. Pada saat itu, harga minyak Brent bertengger di level US$ 58,37 per barel dan minyak WTI di posisi US$ 55,24 sebarel.

Namun, penguatan dollar mengikis pertahanan minyak. “Penguatan dollar AS memberatkan langkah minyak,” jelas Andrew Lipow, president of energy consulting firm Lipow Oil Associates di Houston.

Dia menambahkan, laju pasar saham AS juga terhenti dari kenaikan sebelumnya akibat reli dollar.

Sekadar informasi, semalam, dollar menyentuh posisi paling tinggi dalam 14 tahun terakhir terhadap keranjang mata uang dunia. Salah satu penyebabnya adalah data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas manufaktur AS yang tumbuh lebih besar dari prediksi pada November.

Penguatan dollar membuat harga komoditas yang berdenominasi dollar, seperti minyak, menjadi semakin mahal bagi pemegang mata uang lain.

Selain itu, menurut john Kilduff, founding partner di hedge fund Again Capital, para trader juga mengkhawatirkan adanya laporan yang menyebut bahwa Libya akan terus meningkatkan produksi minyaknya.

Data yang berhasil dihimpun Bloomberg menunjukkan, Libya berencana mengekspor minyak dari pelabuhan dekat Tripoli sebanyak hampir 1,9 juta barel minyak pada bulan ini.

( investasi.kontan.co.id )

RifanFinancindo