PT. Rifan Financindo Berjangka – Menkeu Cermati Kondisi Ekonomi Global

  1bfa95386c7e791583192fd6ba2e6e3f

PT. Rifan Financindo Berjangka – MENTERI Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati masih mengamati dinamika perkembangan ekonomi global dan tak mau terburu-buru mengambil langkah, termasuk mengaktifkan bond stabilization framework terhadap kenaikan yield surat utang negara (SUN) yang menembus 7%.

Dia mengatakan, pihaknya bersama dengan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yakni Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), masih akan mengamati perkembangan di setiap institusi untuk bisa mengambil tindakan. “Setiap anggota KSSK akan laporkan dan kita akan lihat dinamika yang sekarang ini terjadi, apa respons yang harus kita lakukan secara bersama-sama dan masing-masing,” kata perempuan yang akrab disapa Ani itu di kompleks parlemen, Senayan, Kamis (26/4).

Seperti diketahui, yield obligasi pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun naik hingga menembus level 7%. Yield yang meningkat mengindikasikan harga obligasi di pasar yang turun seiring dengan lemahnya permintaan. Hal tu seiring dengan peningkatan yield US Treasury atau surat utang AS 10 tahun yang naik dan sempat menembus level 3% atau yang pertama kalinya sejak Januari 2014.

Menurut Menkeu, perubahan tersebut harus diantisipasi karena apa pun yang terjadi di AS akan memengaruhi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pasca mengikuti Spring Meeting IMF-World Bank di Washington, Sri juga telah mendengar langsung perkembangan kondisi perekonomian di sejumlah negara, terutama AS.

“Sampai hari ini kami meyakini bahwa dengan adanya sensitivitas nilai tukar rupiah, kemudian suku bunga, dan harga minyak, defisit APBN 2018 masih akan tetap terjaga pada kisaran 2,19 %,” ujarnya.

Meski begitu, pemerintah mesti mencermati lingkungan global yang berubah cukup firm dalam jangka waktu 6-12 bulan ke depan. “Kita juga akan antisipasi tentu saja dalam konteks pergerakan kebijakan ini (Amerika Serikat) terhadap mata uang dolar, rupiah, maupun suka bunga, dan ini akan dilihat dalam kebijakan makro,” imbuhnya.

Sumber : www.mediaindonesia.com/