Mengenal Exchange Traded Fund

5f9c64150e86dRIFAN FINANCINDO – Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terdapat 4,17 juta Investor Reksadana per akhir Maret 2021. Data ini mengalami kenaikan daripada akhir 2020 lalu dengan jumlahnya 3,18 juta Investor.

Di Indonesia sendiri, tentu terdapat berbagai jenis produk reksadana, seperti Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) atau Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Namun kini, varian produk reksadana semakin banyak.

Salah satunya ialah Exchange Traded Fund (ETF). Apa itu ETF?

Menurut Perencana Keuangan Finansialku, Gembong Suwito, CFP®, pada dasarnya ETF merupakan reksadana yang diperdagangkan seperti saham lainnya.

ETF adalah reksa dana yang berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Meskipun ETF pada dasarnya adalah reksa dana, produk ini diperdagangkan seperti saham-saham yang ada di Bursa Efek Indonesia,” jelas Gembong.

Dia menyebutkan, ETF merupakan penggabungan antar unsur reksa dana dalam pengelolaan dana (pengelolaan diversifikasi portofolio) dengan mekanisme saham dalam hal transaksi jual-beli.

Perkembangannya di Indonesia, ETF pertama kali muncul pada tanggal 18 Desember 2017, yakni Premier ETF LQ45 yang diluncurkan oleh Indopremier Asset Management.

“Produk ETF LQ45 tersebut underlying (aset dasarnya) adalah Indeks LQ45 (45 saham bluechip dan likuid),” kata Gembong.

Tentunya, perkembangan dana kelolaan ETF di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir April 2021, dana kelolaan produk reksa dana ETF sudah menembus 14,9 triliun.

Menurut Gembong, ETF memiliki prospek perkembangan yang bagus di Indonesia.

“Namun, kurangnya sosialisasi dan pemahaman investor ritel terkait produk ini menjadi penyebab mengapa porsi dana kelolaan ETF masih kecil dan hanya didominasi oleh investor institusi,” sebutnya.

Kelebihan Investasi di ETF

Berikut ini adalah beberapa kelebihan bila berinvestasi di ETF.

1. Lebih ffisien

Gembong menjelaskan bahwa dengan membeli ETF, maka kamu membeli sekelompok saham dengan kualitas yang bagus dan likuid dengan modal yang kecil.

Misalnya, kamu beli ETF XPTD, berarti kamu seperti membeli seluruh saham yang ada di indeks IDX30 tersebut dengan bobot 30 saham tersebut sama dengan bobot indeks IDX30. Contoh ialah bobot saham BCA sebesar 30 persen dari IDX30.

2. Fleksibel

ETF bisa diperjualbelikan kapanpun selama berada di jam perdagangan, layaknya seperti saham.

3. Rendah risiko dan biaya

Transaksi ETF, dalam hal ini pembelian atau penjualan, management fee dari Manajer Investasi relatif lebih rendah dari reksa dana. Ada juga biaya ETF di pasar sekunder sesuai dengan komisi borker.

“Secara risiko, ETF ini risikonya lebih rendah karena likuiditas terjamin dan investasi pada indeks yang aset dasarnya di indeks LQ45 atau IDX30,” kata Gembong.

4. Transparansi

Biasanya, komposisi ETF diumumkan setiap hari, sehingga investor bisa tahu dengan pasti soal saham-saham yang dimiliki oleh reksa dana ETF ini.

Bahkan NAB/UP atau harga ETF dipublikasikan oleh dealer partisipan beberapa kali dalam satu menit, sehingga investor yang ingin transaksi baik membeli atau menjual unit penyertaan ETF akan tahu persis nilai saham yang ditransaksikannya.

Tentu hal ini berbeda dengan reksadana saham, misalnya. Reksadana saham yang biasanya hanya dapat diperjualbelikan unit penyertaannya satu kali sehari dengan cut off time pukul 13.00 dan keterbukaannya pada saat transaksi.

“Investor tidak mengetahui harga detail dari unit penyertaannya dan komposisi saham pembentuk unit penyertaan tersebut,” sebut Gembong.

Kekurangan ETF

Meski memiliki banyak kelebihan, nyatanya ETF juga memiliki kekurangannya seperti berikut.

1. Biaya pajak capital gain

Ketika Investor menjual reksadana ETF-nya di bursa efek, terdapat biaya pajak yang harus dibayarkan kepada Pemerintah. Besar pajaknya adalah final 0,1 persen dari nilai penjualan.

Ketentuan tersebut tidak lagi melihat apakah investor mendapatkan keuntungan atau kerugian dari penjualannya. Tentu saja hal ini berbeda bila kamu membeli reksa dana yang bukan objek pajak.

2. Biaya spread (selisih harga jual dan beli)

Dalam ETF, terdapat selisih antara harga jual dan harga beli unit penyertaan. Tentu berbeda dengan reksadana biasa yang selalu dibeli dan dijual kembali pada Nilai Aktiva Bersih (NAB).

“Investor ETF yang menjual unit pernyertaannya harus menanggung biaya yang merupakan selisih antara harga jual dan harga beli,” kata Gembong.

Sumber : kompas