Menakar Ekonomi Kuartal III-2021

arf-gedung-3RIFAN FINANCINDO – Ekonomi global mulai tertatih seiring masuknya Covid-19 di pengujung 2019. Kontraksi ekonomi yang ditimbulkannya menyasar ke semua lini. Bukan hanya negara miskin dan berkembang yang mengalami krisis, negara maju pun mengalami hal serupa.

Pada 2020 lalu, ekonomi Amerika Serikat bahkan terguncang hebat. Di Asia Tenggara, hanya Vietnam yang mampu tumbuh positif, sisanya bergejolak, terlebih Indonesia yang terkontraksi hingga 2,07% pada tahun lalu.

Di tingkat nasional, meski pemerintah pada 2021 menggelontorkan dana penanganan Covid-19 dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar Rp744,75 triliun, tetap saja aktivitas ekonomi masih lesu, khususnya di awal kuartal I.

Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan mencatat inflasi Januari 2021 sebesar 0,26% dan inflasi tahunan di kisaran 1,55%. Realisasi inflasi ini dianggap lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar. Lalu bagaimana sisa kuartal di 2021?

Konsumsi sepertinya jadi salah satu variabel ekonomi untuk melawan pandemi. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, stimulus kuartal II/ 2021 yang terdiri dari program bantuan sosial, diskon listrik, dan lainnya ternyata mendorong konsumsi publik. Terjadi dinamika di pasar yang selanjutnya menimbulkan daya beli masyarakat. Hasilnya ekonomi kuartal II naik menjadi 7,07%.

Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga menunjukkan angka positif yaitu 5,93%. Dari capaian itu, ekonomi Indonesia merangkak ke zona positif setelah berfluktuasi empat kali berturut-turut dari kuartal II tahun lalu.

Faktor konsumsi ini yang kemudian mampu memberikan tenaga baru dari tekanan pandemi yang memasuki gelombang ketiga di seluruh dunia. Geliat ekonomi mulai terjadi di tengah efek pembatasan mobilitas.

Dari sisi investasi, data dari Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu menarik dicermati. Realisasi investasi langsung kuartal II/2021 mencapai Rp223 triliun, tumbuh 16,2% dari 2020.

Realisasi ini terdiri dari penanaman modal dalam negeri sebesar Rp106,2 triliun dan penanaman modal asing sebesar Rp116,8 triliun. Nilai investasi langsung ini bahkan melanjutkan tren peningkatan yang melampaui level sebelum pandemi sejak kuartal I tahun ini.

Dicermati dari sisi investasi dalam bursa efek, khususnya reksa dana, juga menarik. Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia, pada Juni 2021 terdapat 13,6 juta investor, naik signifikan dari 9,2 juta pada 2020.

Bahkan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana meningkat di mana pada 2020 sebesar Rp 573 miliar dan pada Maret 2021 naik hingga Rp579 miliar. Hal ini mencerminkan bahwa terjadi kenaikan tren investasi dalam situasi pandemi.

Naiknya investasi juga tidak terlepas dari beragamnya pilihan investasi. Meski dihantui gelombang ketiga pandemi, beberapa aplikasi investasi mampu menyerap kebutuhan pengelolaan dana bagi investor ritel yang terjebak dalam kebuntuan investasi.

Meski ditekan situasi pandemi, rata-rata jumlah dana investasi per nasabah dari saluran business to consumer (B2C) di kami, misalnya, meningkat 122% dengan perhitungan Rp90 juta per nasabah. Adapun profesional yang bergabung menjadi mitra advisor juga naik pesat sebesar 208% dengan rata-rata jumlah investasi per nasabah Rp 875 juta.

Meski konsumsi dan investasi dapat melawan pandemi dalam menggairahkan tren positif di kuartal II, tantangan kuartal III justru jauh lebih besar. Mobilisasi nasional yang mengacu pada PPKM masih menjadi batasan di mana kecenderungan aktivitas ekonomi sebenarnya digerakkan oleh transaksi langsung.

Poin ini yang dikhawatirkan Presiden Joko Widodo saat peringatan HUT Pasar Modal bulan lalu. Presiden menganalisis tekanan terhadap ekonomi nasional di kuartal III masih akan sangat kuat. Menurutnya, meski ekonomi nasional bertumbuh pada kuartal II, di kuartal III badai pandemi dapat menekan perkembangan perekonomian nasional.

Namun seperti lazimnya hukum ekonomi, di mana ada tekanan, justru di situ terdapat peluang. Peluang itu dimanfaatkan para pengelola dana investasi. Alhasil, pertumbuhan investor ritel di Indonesia sangat pesat di berbagai instrumen investasi, dari reksa dana hingga pasar saham.

Khusus untuk pasar modal, tren positif pertumbuhannya sangat baik, didorong dari banyaknya perusahaan teknologi yang kemudian melakukan IPO. Sentimen pasar modal merangkak naik. Investor ritel pun membanjiri investasi.

Pemerintah mencatat, terdapat kenaikan jumlah investor hingga 50% pada Juli lalu atau meningkat hingga empat kali lipat dari 2017 lalu. Kehadiran investor domestik semakin nyata. Jika tren positif terus berlanjut, kekhawatiran ekonomi kuartal III akan memburuk bisa saja meleset, sehingga tekanan pasar yang mengganggu dapat ditahan.

Gerak positif ini tak terlepas dari momentum pemulihan ekonomi yang telah berlangsung. Kementerian Keuangan bahkan akan mengguyur program PEN pada periode Agustus—Desember 2021 dengan anggaran sisa sebesar Rp305,5 triliun.

Dengan adanya relaksasi dari pemerintah yang mendorong konsumsi, aksi korporasi berbagai perusahaan, dan minat investasi investor ritel maka prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2021 yang optimistis di kisaran 4%—5,7% bisa jadi terwujud.

Sumber : bisnis