Mau Investasi Reksadana Saham?

5f9c64150e86dRIFAN FINANCINDO – Indonesia berhasil keluar dari resesi ekonomi dengan mencatatkan pertumbuhan positif 7,07 persen YoY di kuartal kedua tahun 2021. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi para investor untuk melakukan investasi, utamanya investor jangka panjang atau investor dengan profil risiko agresif.

Investor jangka panjang atau agresif tentunya memiliki kesesuaian dengan jenis investasi yang pergerakannya fluktuatif, seperti reksadana saham misalnya. Sebagai instrument investasi dengan porsi terbesar penempatan dananya pada saham atau efek ekuitas, pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi salah satu katalis positif bagi reksadana saham.

Head of Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja mengatakan, dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan percepatan vaksinasi Covid-19, ada peluang yang besar dalam investasi reksadana saham.

“Menilik peluang potensi pemulihan ekonomi lebih lanjut di tengah program vaksinasi yang terus dipercepat, reksa dana saham dapat menjadi pilihan di periode yang sesuai sebagai entry point seperti saat ini, terutama bagi investor jangka panjang dan atau berprofil agresif,” ujar Freddy melalui siaran pers, Jumat (13/8/2021).

Namun demikian, berinvestasi tanpa pengetahuan yang memumpuni juga akan berisiko tinggi bagi investor.

Nah, untuk mencegah hal tersebut ada beberapa kiat-kiat khusus yang bisa Anda lakukan untuk memilih dan membeli reksa danasaham, antara lain :

1. Sesuaikan dengan tujuan investasi

Langkah awal yang harus dilakukan sebelum memilih reksadana saham adalah memastikan kapan dana investasi ini akan dimanfaatkan. Berinvestasi di reksa dana saham memang menawarkan peluang pertumbuhan yang tinggi, namun juga memiliki tingkat volatilitas atau risiko naik-turunnya harga yang sangat tinggi.

“Jadi, silakan manfaatkan reksadana saham untuk memenuhi tujuan keuangan dalam jangka waktu 10 tahun mendatang atau lebih. Misalnya untuk persiapan pension,” ungkap Freddy.

Untuk investor dengan profil risiko moderat atau memiliki horizon investasi jangka menengah, sedikit porsi reksa dana saham tetap bisa dimanfaatkan sebagai booster untuk menggenjot kinerja portofolio investasi kita secara keseluruhan.

Misalkan 10 persen dari komposisi portofolio kita ditempatkan di reksadana saham, maka sisanya bisa ditempatkan di investasi lainnya yang risikonya cenderung lebih rendah, seperti reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang.

2. Pastikan perusahaan Manajer Investasi terpercaya

Manajer Investasi (MI) memiliki peranan yang sangat penting dalam mengelola dana investasi para investor reksadana. Oleh karena itu, kamu harus mencari tahu rekam jejak MI yang akan mengelola danamu. Untuk memastikannya, kamu bisa melakukan Cek legalitas MI di situs OJK (https://reksadana.ojk.go.id/Public/ManajerInvestasiList.aspx).

“Kita juga bisa memeriksa rekam jejak MI melalui situs perusahaan MI maupun beragam artikel berita. Selain itu, ada baiknya untuk mengetahui perusahaan yang terafiliasi dengan MI tersebut, para profesional di dalamnya, serta tata kelola perusahaan yang diterapkan di MI tersebut,” tegas dia.

3. Pahami strategi pengelolaan

Ada banyak reksadana saham yang bisa dipilih, masing-masing reksadana saham memiliki strategi pengelolaan yang berbeda. Ada yang menggunakan tema investasi berdasarkan kapitalisasi pasar, syariah, konvensional, ESG, dan lain sebagainya), atau berdasarkan sektor tertentu (infrastruktur, teknologi, dan lain lain), atau pun dari cara strategi pengelolaan.

“Kita harus mendapat informasi lengkap mengenai hal tersebut, memilih yang paling sesuai dengan tujuan investasi kita. Perhatikan konsistensi kinerja reksa dana untuk periode menengah panjang salah satu faktor yang penting diperhatikan adalah peringkat dan konsistensi kinerja reksadana,” ujarnya.

Freddy menjelaskan, beberapa perusahaan domestik maupun global mengadakan pemeringkatan reksadana. Salah satu perusahaan pemeringkat yang terpercaya adalah Morningstar Rating.

Perusahaan pemeringkat global ini memberikan rating bintang 1-5 terhadap produk dengan usia minimal 3 tahun yang telah melalui proses perhitungan berdasarkan Morningstar Risk-Adjusted Return yang meliputi kinerja bulanan produk dan konsistensi kinerja produk.

“Walaupun tidak selalu harus digunakan, rating tersebut dapat menjadi pertimbangan memilih reksadana. Di sisi lain, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga menjadibagi peluang investasi reksadana saham, dengan mencermati risiko saat ini, dan pada saat yang sama juga menangkap peluang jangka panjang,” tegas dia.

 

Sumber : kompas