Materi Ini Ganggu Pergerakan Bima Sakti

5e411d3e9b2e9RIFAN FINANCINDO – Studi baru yang dilakukan sejumlah ilmuwan astronomi mengungkapkan temuan yang mengejutkan tentang galaksi Bima Sakti. Large Magellanic Cloud (LMC) yang telah menjadi galaksi satelit Bima Sakti, ternyata memberikan gangguan pada pergerakan galakis kita.

LMC adalah materi gelap yang terlihat seperti awan samar di langit malam yang berada di belahan bumi selatan. Namanya, Magellanic, diambil dari penjelajah Portugis abad ke-16, Ferdinand Magellan.

Dikutip dari Phys, Selasa (24/11/2020), para ilmuwan meyakini bahwa menurut standar kosmologis, LMC telah melintasi galaksi Bima Sakti sekitar 700 juta tahun yang lalu.

Oleh karena kandungan materi gelap yang sangat besar, saat LMC jatuh di galaksi kita, mengakibatkan gangguan terhadap struktur dan gerakan galaksi Bima Sakti.

Para astronom mengatakan bahwa efeknya masih disaksikan saat ini, dan memaksa revisi tentang bagaimana galaksi kita ini berevolusi.

Dalam penelitian sebelumnya telah mengungkapkan bahwa LMC, seperti Bima Sakti, dikelilingi halo dengan materi gelap. Ini adalah partikel yang sulit dipahami yang mengelilingi galaksi, tidak menyerap maupun memancarkan cahaya.

Akan tetapi, partikel tersebut memiliki efek gravitasi yang dramatis yang memengaruhi pergerakan bintang dan gas di alam semesta.

Untuk menemukan bagaimana LMC membelokkan gerak galaksi kita, para peneliti di University of Edinburg menggunakan model statistik canggih dengan menghitung kecepatan bintang terjauh di Bima Sakti.

Dalam studi yang telah dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy ini para peneliti menemukan daya tarik yang sangat kuat dari halo materi gelap LMC menarik dan memutar piringan galaksi Bima Sakti pada kecepatan 115.200 km per jam menuju kontelasi Pegasus.

Lebih mengejutkan lagi, ilmuwan menemukan bahwa galaksi Bima Sakti tidak bergerak menuju lokasi LMC saat ini, seperti yang diperkirakan sebelumnya, melainkan menuju suatu titik di lintasan sebelumnya.

Para peneliti meyakini, LMC dengan tenaga gaya gravitasi yang masif, bergerak menjauh dari galaksi Bima Sakti dengan sangat cepat yakni sekitar 1,3 juta km per jam.

Para astronom menyimpulkan fenomena ini seolah-olah galaksi kita sedang berusaha keras untuk mencapai target yang bergerak cepat, tetapi tidak membidik dengan baik.

Lantas, apa manfaat dari penemuan tersebut?

Penemuan ini diyakini dapat membantu para ilmuwan untuk mengembangkan teknik pemodelan baru yang dapat menangkap interaksi dinamis yang kuat antara dua galaksi.

Saat ini, para astronom bermaksud untuk mencari tahu dari mana arah pertama kali LMC jatuh ke Bima Sakti dan memastikan waktu terjadinya.

Tujuannya, untuk mengungkapkan jumlah dan distribusi materi gelap di galaksi ini dan LMC secara detail yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami berharap dari penemuan ini, adanya generasi baru model Bima Sakti, untuk menggambarkan evolusi galaksi kita,” jelas Dr. Michael Petersen, penulis utama dan Postdoctoral Research Associate, School of Physics and Astronomy.

Lebih lanjut Dr Petersen mengatakan bahwa penemuan ini dapat menunjukkan bintang-bintang pada jarak yang sangat jauh, hingga 300.000 tahun cahaya.

Bintang-bintang tersebut dapat mempertahankan memori struktur Bima Sakti sebelum LMC jatuh, dan membentuk latar belakang yang digunakan untuk mengukur cakram bintang yang terbang melintasi ruang angkasa, dapat ditarik oleh gaya gravitasi dari LMC.

Professor Jorge Penarrubia, Personal Chair of Gravitational Dynamics, School of Physics and Astronomy, menambahkan penemuan ini telah mematahkan anggapan bahwa galaksi kita berada dalam semacam kondisi ekuilibrium.

“Sebenarnya, infall materi gelap pada LMC-lah yang menyebabkan gangguan keras terhadap galaksi Bima Sakti. Mungkin memahami ini memberi kita pandangan yang tak tertandingi tentang distribusi materi gelap di kedua galaksi,” imbuh Profesor Penarrubia.

 

Sumber : kompas