Manufaktur di AS Memburuk Pada Lemahnya Permintaan Global

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Manufaktur Amerika mengalami stagnasi pada bulan September seiring dolar yang lebih kuat dan goyahnya pasar luar negeri sehingga menyebabkan laju paling lambat pada permintaan sejak November 2012.

Indeks Institute for Supply Management pabrik turun menjadi 50,2, yang merupakan penurunan ketiga berturut-turut dan terlemah sejak Mei 2013, dari 51,1 pada bulan sebelumnya, laporan kelompok Tempe, yang berbasis di Arizona menunjukkannya pada hari ini. Lima puluh merupakan garis pemisah antara ekspansi dan kontraksi. Perkiraan rata-rata ekonom yang disurvei oleh Bloomberg menyebutkan angka di 50,6.

Angka-angka menunjukkan permintaan ekspor menyentuh level terendahnya sejak Juli 2012 terkait perjuangan untuk meningkatkan ekonomi dari Cina sampai kawasan Eropa. Sementara kuatnya sektor belanja oleh konsumen AS membantu untuk mendukung sektor manufaktur, dolar yang lebih kuat membuat harga menjadi lebih mahal bagi pembeli asing untuk membeli merchandise buatan Amerika.

Prospek manufaktur “tidak terlihat baik, dalam sebuah ungkapan,” Jay Morelock, seorang ekonom di FTN Financial di New York, sebelum laporan tersebut dibuat. “Jika permintaan melambat dan pada saat yang bersamaan dolar menguat, maka ekspor kita akan mendapatkan guncangan.”

Perkiraan 85 ekonom dalam survei Bloomberg berkisar antara 49-52.

Indeks pesanan baru ISM turun menjadi 50,1 bulan lalu dari sebelumnya sebesar? 51,7, sedangkan indeks produksi turun menjadi 51,8 dari 53,6 pada bulan Agustus. Indeks pesanan ekspor ditunjukkan pada angka 46,5.

Indeks kerja pabrik menurun menjadi 50,5 pada September dari 51,2 bulan sebelumnya. Indeks harga yang dibayar jatuh ke 38 dari sebelumnya 39.

Indeks persediaan tidak berubah pada 48,5. Angka yang kurang dari 50 berarti penyusutan pada persediaan.

Seperti laporan ISM, survei pabrik daerah telah memburuk selama beberapa minggu terakhir, memicu kekhawatiran bahwa ancaman internasional untuk pertumbuhan menyebar ke pesisir AS. Tujuh dari survey-survey ini dirilis selama September, dan semua menunjukkan penyusutan pada manufaktur.(mrv)

Sumber: Bloomberg