Malaysia & Singapura Menuju Jurang Resesi

42ed8159-0f4b-4b92-b42f-af629be41bb8_169RIFAN FINANCINDO – Satu-persatu ekonomi negara-negara di kawasan Asia Tenggara menghadapi ancaman resesi. Tekanan berat sebagai dampak dari mewabahnya pandemi virus corona (COVID-19) telah membuat kerusakan pada ekonomi negara-negara di kawasan ini.

Setelah Singapuran pekan lalu diramalkan bakal mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi hingga 7%, kini giliran Malaysia yang dihadapkan pada persoalan serupa.

Setelah membukukan pertumbuhan kuartalan paling lambat sejak krisis keuangan global, ekonomi Malaysia diperkirakan akan memasuki resesi dalam empat hingga enam bulan ke depan, kata ahli statistik negara itu.

“Akibat perbatasannya tertutup bagi orang asing dan macetnya perdagangan di seluruh dunia, berbagai industri termasuk pariwisata dan penerbangan telah lumpuh, menambah ketidakpastian pada rebound perdagangan pada kuartal pertama,” kata Mohd Uzir Mahidin, kepala statistik Malaysia, dikutip dari MalayMail, Minggu (31/5/2020).

Proyeksi perlambatan ke depan dalam ekonomi dikeluarkan setelah produk domestik bruto (PDB) negara itu hanya tumbuh 0,7% dalam tiga bulan pertama tahun ini. Itu merupakan angka pertumbuhan terendah sejak kuartal ketiga 2009, jelas Mahidin.

Angka itu jauh lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan 3,9% sampai 4,2%. Rendahnya pertumbuhan terjadi karena negara kehilangan 22,8 miliar ringgit (US$ 5,3 miliar) dalam output ekonomi karena memberlakukan kuncian (lockdown) di seluruh negeri, katanya.

Pada bulan Maret, ketika dunia memulai “Great Lockdown”, sebuah indikator utama mencatat penurunan tertajam sejak November 1991, kata ahli statistik.

“Dari indikasi awal pada bulan April dan Mei 2020, lingkungan ekonomi diramalkan tidak menguntungkan bagi bisnis Malaysia,” menurut laporan itu. “Dengan adanya lockdown global, situasi yang belum pernah terjadi ini telah menyebabkan kontraksi tajam terhadap ekonomi, tidak seperti sebelumnya.”

Pekan lalu, sempat diberitakan ekonomi Singapura diramal akan mengalami kontraksi 4% hingga 7%. Penyebaran COVID-19 dan sejumlah upaya social distancing (jarak sosial) memukul ekonomi negara itu.

Sebagaimana ditulis The Business Times, pemerintah merevisi perkiraan proyeksi pertumbuhan sebelumnya, yakni kontraksi -1% sampai -4%. Memburuknya prospek permintaan eksternal membuat ini terjadi.

“Ada tingkat ketidakpastian yang terus menerus karena COVID-19, termasuk pemulihan ekonomi, baik Singapura maupun global,” kata Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura (MTI).

Singapura adalah negara dengan kasus COVID-19 terbanyak di ASEAN, dengan jumlah kasus mencapai 31.960 orang. Namun, angka kematian minim yakni hanya 23 orang.

Sebelumnya Singapura juga membuat aturan semi lockdown yang disebut ‘circuit breaker’. Namun pelonggaran akan mulai dilakukan Juni nanti.

Sekretaris MTI, Gabriel Lim, mengatakan pembatasan yang dilakukan merusak aktivitas ekonomi. Kinerja paruh kedua Singapura di 2020 akan bergantung pada sejauh mana negeri itu bisa menahan COVID-19 dan memutus rantai penyakit.

Meski demikian, ini bukanlah ramalan tersuram yang diungkap MTI. Di 2009, Singapura pernah diramal resesi dengan ekonomi berkontraksi -9% karena krisis keuangan global.

Sementara itu, PDB kuartal pertama 2020 Singapura direvisi menjadi 0.7%, dari sebelumnya kontraksi -2,2%. Manufaktur menjadi penopang.

 

Sumber : cnbcindonesia