Magnet Global Bursa Nasional

fny-bursa-6RIFAN FINANCINDO – Akibat tindakan investor global yang mengalirkan investasinya ke negara berkembang maka tercipta hubungan antara indeks negara maju dan berkembang. Kondisi ini sering disebut kointegrasi (Engle & Granger, 1987, Goetzmann, et al. 2001, dan Forbes & Rigobon, 2002).

Landasan kointegrasi adalah integrasi ekonomi yang ditandai munculnya blok-blok perdagangan seperti APEC, Mercosur, NAFTA, AFTA, EEC dan lain-lain (Pretorius, 2002). Blok-blok perdagangan ini memiliki komitmen mengurangi hambatan masuk kegiatan ekonomi dan perdagangan internasional yang didasarkan pada semangat globalisasi dari Kenichi Ohmae (1995) dengan pilar 3I yakni Investor, Informasi dan Industri.

Selanjutnya pilar tersebut memicu munculnya demutualisasi bursa efek atau penggabungan bursa-bursa negara Eropa seperti Euronext (Wibowo, 2012) yang bertujuan untuk saling meningkatkan kinerja masing-masing bursa guna mendorong iklim pertumbuhan investasi yang maksimum.

Setelah era mata uang Euro 1999, Krisis Yunani 2010 hingga Brexit 2016 maka bentuk demutualisasi bursa efek di Eropa yakni Euronext masih terus eksis dan memberi bukti bahwa semangat globalisasi 3I Kenichi Ohmae tetap berjalan. Bahkan indeks-indeks negara Eropa yang terdaftar di Euronext mempunyai faktor dampak juga bagi indeks-indeks di kawasan lain seperti Asia Tenggara, Asia Selatan, Amerika Latin dan Timur Tengah berupa gerakan secara serempak (comovement).

Sejauh ini negara-negara di kawasan Asia Tenggara (Asean) masih membuktikan diri sebagai blok yang berpengaruh kuat dalam setiap kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan blok-blok di kawasan dunia lainnya seperti APEC, Mercosur, NAFTA, AFTA dan EEC.

Meski diterpa krisis ekonomi Asia 1997—1998, krisis keuangan global 2007—2008 hingga krisis pandemi Covid-19 tetapi peran Asean sebagai blok kekuatan yang harus diperhitungkan pebisnis dan investor global dalam tujuan bisnis dan investasi tetap efektif.

Pada penelitian Setyawan dan Wibowo (pada 2019 dan 2021) yang secara khusus memotret perkembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di mata investor global, dinyatakan bahwa ada tiga hal yang membuat investor dunia sangat tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, yaitu perbedaan keunggulan informasi sesuai studi Dvorak (2005), selisih spread tingkat bunga yang lebar, dan kemudahan untuk melakukan sector rotation.

Studi Dvorak memberi bukti nyata bahwa jika investor global ingin memaksimumkan hasil investasinya, mereka harus lebih berani memanfaatkan kerja sama strategis dengan pialang lokal yang memiliki pengetahuan dan informasi lebih detil dan mendalam tentang saham-saham yang ada di Indonesia.

Penelitian Dvorak juga menemukan bahwa bila investor global sekelas Merrill Lynch, JP Morgan dan McKinsey hanya mengandalkan informasi sendiri maka mereka dapat mengalami kekalahan trading strategy dengan pialang lokal yang skala dan pengalamannya jauh lebih kecil.

Menyoal spread tingkat bunga yang lebar, Rajan dan Singales (1994) mengungkapkan bahwa negara dengan sistem bank-based seperti Indonesia akan didominasi oleh masyarakat investor (Surplus Income Unit/SIUs) yang lebih bergantung pada simpanan sebagai instrumen utama. Mereka bersifat sangat risk averse dan menyukai risk free asset.

Oleh karena masyarakat investornya masih menitikberatkan investasi pada risk free asset seperti tabungan dan deposito maka ternyata masyarakat dunia usahanya (Deficit Spending Unit/ DSUs) juga lebih menyukai pendanaan ke bank daripada melakukan IPO.

Tingginya risk free asset sebagai akibat dari masih lebih dominannya prefensi masyarakat investor (SIUs) pada tabungan dan deposito membuat struktur tingkat bunga di negara kita lebih tinggi daripada negara lain, sehingga kondisi ini sangat disukai investor global.

Faktor lainnya yang menjadi daya tarik Indonesia di mata investor global adalah kemudahan melakukan sector rotation. Sector rotation merupakan salah satu teknik baru dalam diversifikasi internasional dalam melihat pada potensi industri dari seluruh saham yang listing.

Di BEI ada JASICA (Jakarta Stock Industrial Classifation) yang memiliki 10 industri sesuai GICS (Global Industry Classication Standard) di antaranya migas, basic material, industrial goods, services goods, consumer goods, healthcare, financial institution, property and real estate, teknologi, utilitas dan telekomunikasi.

Kemudahan sector rotation tersebut penting bagi investor untuk melakukan switching saham per sektor industri, karena didukung oleh begitu banyaknya laporan analisis industri dari perusahaan-perusahaan profesional yang menawarkan daya saing unik untuk setiap industri.

Akhirnya, Indonesia akan masih memiliki daya tarik diversifikasi internasional bagi investor global meskipun derajat kointegrasinya dengan bursa negara maju masih tinggi. Ada banyak industri karena ditopang banyak komoditas dan tersedianya kemudahan perdagangan aset kripto di Bursa Berjangka Komoditi. Tentunya, keberadaan aset kripto ini justru akan menambah daftar prioritas investor global.

Sumber : bisnis