Laboratorium Tekstil Khusus Medis

antarafoto-pekerja-terdampak-covid-19-010720-mrh-7RIFAN FINANCINDO – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengembangkan fasilitas laboratorium melt spinning. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi  mengatakan, fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan oleh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional yang tengah melakukan pengembangan bahan baku benang dengan fungsi khusus, termasuk untuk keperluan medis.

Dia mengatakan permintaan konsumen ketika pandemi terhadap produk tekstil yang memiliki fungsi anti bakteri dan anti virus terus meningkat. Untuk itu, industri tersebut perlu difasilitasi oleh pemerintah.

“Guna terus melakukan perubahan, perlu menerapkan dan memanfaatkan teknologi terbaru,” katanya seperti dikutip dari Antara, Jumat (12/2/2021).

Menurutnya, pengembangan material untuk kesehatan akan berdampak pada peningkatan daya saing industri tekstil dan produk tekstil nasional.

Dia menambahkan teknologi melt spinning mampu mendesain benang dengan fungsi khusus yang langsung ditanamkan pada seratnya.

Dengan adanya proses rekayasa serat menggunakan teknologi melt spinning, dapat dihasilkan produk tekstil fungsional yang memiliki tingkat durabilitas lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penyempurnaan tekstil secara kimia.

“Kami menyiapkan melt spinning untuk mendukung industri. Kami mempersilakan industri memanfaatkan teknologi dan peralatan ini. Salah satu keunggulannya adalah bisa mencari bahan terbaik seperti yang diinginkan,” ujarnya.

Penerapan teknologi melt spinning juga bertujuan untuk mendukung substitusi impor bahan baku tekstil dan produk tekstil fungsional.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin Elis Masitoh memberikan apresiasi terhadap percepatan pengadaan alat melt spinning untuk pengembangan teknologi industri.

“Besar harapan kami kepada BBT Bandung untuk menjadi jembatan inovasi bagi industri tekstil dan produk tekstil dalam mengembangkan produknya,” Imbuhnya.

Kepala BBT Bandung Wibowo Dwi Hartoto, pihaknya bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan fasilitas laboratorium pengujian masker medis.

Pengujian yang dapat dilakukan di laboratorium tersebut antara lain uji bacteria filtration efficiency (BFE), particle filtration efficiency (PFE), breathing resistance, synthetic blood penetration test atau splash resistance, differential pressure, dan uji flammability.

“Fasilitas ini disiapkan dalam rangka menjawab tantangan untuk menciptakan produk tekstil yang berkualitas dan memadai, seperti pada saat pandemi seperti ini,” sebutnya.

 

Sumber : bisnis