Krisis Baru Hantam Eropa

pm-inggris-boris-johnson-apjustin-tallis_169RIFAN FINANCINDO – Krisis baru menghantam Eropa. Harga gas melambung tinggi di kawasan tersebut bahkan naik 250% sejak Januari 2021. Salah satu alasan mengapa harga mengalami kenaikan adalah dibukanya kembali ekonomi negara-negara setelah penguncian akibat Covid-19. Ini dikombinasikan dengan masuknya musim dingin, yang mendorong permintaan lebih tinggi, baik di Eropa maupun Asia.

Pasokan gas juga berkurang akibat penghentian produksi di fasilitas milik Amerika Serikat (AS). Ini juga akibat pengetatan aturan pasar karbon di Uni Eropa (UE).

Ada juga isu manipulasi perusahaan gas Rusia, Gazprom, untuk mendongkrak harga. Belum lagi listrik tenaga angin yang tak maksimal berfungsi saat musim dingin.

Akibat hal ini, sejumlah negara terpukul keras, di antaranya Inggris. Di Negeri Ratu Elizabeth itu, tagihan listrik warganya saat ini merupakan yang paling mahal di Eropa.

Tarif listrik telah naik tinggi, bahkan mencapai 475 pound atau sekitar Rp 9,3 juta. Harga kontrak pembelian listrik juga mendekati rekor tertinggi di Inggris, karena banyaknya listrik yang diimpor dari Prancis.

Tak sampai di situ saja, industri energi pun terancam bangkrut berjamaah. Harga produksi listrik rata-rata 291,18 euro (Rp 4,8 juta) per megawatt-jam.

Menurut perusahaan analisis energi LCP Enact, harga maksimum untuk Inggris kemarin, bisa setinggi 1.083,78 euro (Rp 18,1 juta) per megawatt-jam. “Semua pemasok akan merasa sangat sulit saat ini,” kata Robert Buckley, kepala pengembangan hubungan di Cornwall Insight dikutip CNBC International, Selasa (21/9/2021).

Lonjakan harga pasti akan menyebabkan lebih banyak kebangkrutan perusahaan.

Pemerintah Inggris kini pun kini sedang mempertimbangkan pinjaman bailout untuk pemasok energi. Menteri Bisnis Kwasi Kwarteng bertemu dengan perusahaan energi Inggris untuk memastikan masalah ini.

Berusaha meyakinkan publik, Perdana Menteri (PM) Boris Johnson mengatakan krisis harga hanya akan terjadi sementara. Inggris memiliki batasan berapa banyak pemasok dapat membebankan konsumen, dan batas harga ditinjau oleh pemerintah setiap enam bulan.

Pasokan Makanan Terganggu?

Sementara itu kenaikan harga gas telah berimbas pada ditutupnya dua pabrik pupuk besar di Teesside dan Cheshire tutup. Pabrik ini diketahui menghasilkan karbon dioksida (CO2) sebagai produk sampingan.

CO2 digunakan untuk penyembelihan dan sistem pendingin guna memperpanjang stok makanan, seperti daging, unggas bahkan minuman bersoda. Kepala Eksekutif Asosiasi Pengelola Daging di Inggris mengatakan dua minggu lagi kemungkinan produk-produk akan menghilang di rak-prak supermarket.

“80% babi dan unggas disembelih dengan proses ini,” tegasnya, dikutip Sky News.

Hal sama juga dikatakan perusahaan penyuplai makanan Inggris, Bernard Matthews dan 2 Sisters Food Group. Pasokan kalkun untuk Natal misalnya terancam.

“Sekarang tanpa pasokan CO2, Natal bisa batal,” kata pemilik perusahaan Ranjit Singh Boparan.

Sumber : cnbcindonesia