Kenaikan Suku Bunga AS Angkat Harga Emas

emas 3RIFAN FINANCINDO – Harga emas naik terpicu merosotnya Dolar ke posisi terendah dalam beberapa bulan yang disebabkan melemahnya data inflasi Amerika Serikat (AS) dan kemungkinan kenaikan suku bunga.

Melansir laman Reuters, Selasa (18/7/2017), harga emas di pasar spot naik 0,5 persen menjadi US$ 1.234,61 per ounce. Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus naik 0,5 persen ke posisi US$ 1.233,70 per ounce.

“Dolar terus turun demikian pula imbal hasil dan ini menuju kembali ke posisi relative mereka yang agak tinggi akhir-akhir ini,” kata Analis Mitsubishi, Jonathan Butler di London.

Dia menilai, jika harga emas tetap posisi US$ 1.230 atau lebih tinggi, ada risiko short yang membalikan harga emas. Harga emas meraup keuntungan di tengah melemahnya Dolar AS.

Dolar melemah terkait angka inflasi dan permintaan domestik dan di tengah kemungkinan Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

Pelemahan Dolar mendukung harga emas, karena investor menjadi lebih murah menguasai komoditas ini.

“Sentimen investor (untuk emas) telah meningkat cukup dramatis selama seminggu terakhir, terutama dengan data yang lemah dari Amerika Serikat pekan lalu, ” jelas Analis ANZ Kata Daniel Hynes.

Adapun harga logam mulia lainnya, Platinum kini di posisi turun 0,9
menjadi US$ 923,74 per ounce dari sebelumnya US$ 934,4, tertinggi
sejak 15 Juni.

Sementara harga perak naik 1,2 persen menjadi US$ 16,13 per ounce,
setelah mencapai US$ 16,19, tertinggi hampir dalam dua minggu.

Bursa Asia Tertekan Pasar China

Bursa Asia melemah pada pembukaan perdagangan hari ini usai terjadinya mini-crash di pasar China yang dianggap Black Monday.

Melansir laman CNBC, Selasa (18/7/2017), indeks acuan Jepang Nikkei turun 0,31 persen dan Kospi Korea Selatan turun 0,1 persen pada awal perdagangan.

Sementara S&P/ASX 200 sebesar 0,36 persen, dengan keuntungan moderat yang mengimbangi kerugian pada sub-indeks lainnya. Sub-indeks keuangan turun hingga 0,93 persen.

Pasar terus mencerna perkiraan PDB kuartal kedua China yang lebih baik yang dirilis pada Senin. Tingkat pertumbuhan Cina mencapai 6,9 persen dibandingkan dengan perkiraan 6,8 persen, menurut jajak pendapat Reuters.

Meski demikian, pasar daratan tersandung pada Senin kendati data pertumbuhan ekonomi mencatatkan kinerja yang positif, dengan analis menghubungkan sentimen pasar ke pertemuan kebijakan keuangan pada akhir pekan.

The Shanghai Composite mengakhiri sesi dengan turun 1,42 persen dan Shenzhen Composite turun 4,278 persen.

Data yang kuat diharapkan memberikan dukungan untuk pasar komoditas ke depan, menurut Ekonom ANZ Lavinia Specchia dalam sebuah catatannya. “Industri logam menjadi penerima utama, namun data ekonomi positif menjadi gambaran seluruh industri,” tambah Specchia.

Wall street sebelumnya ditutup mendatar terpicu keuntungan pada utilitas dan saham konsumen yang mengimbangi penurunan saham perusahaan perawatan kesehatan.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 8,02 poin, atau 0,04 persen ke posisi 21.629.72. Sementara indeks S & P 500 kehilangan 0,13 poin, atau 0,01 persen menjadi 2.459,14 dan Nasdaq Composite bertambah 1,97 poin, atau 0,03 persen ke level 6.314,43 poin.

Pasar dipengaruhi saham sektor kesehatan pada indeks S&P 500 yang tergelincir. Sebagian terbebani keputusan Senat Amerika Serikat (AS) untuk mempertimbangkan penundaan undang-undang kesehatan.

“Saya pikir kita harus melihat beberapa hal terkait kesehatan sebelum Anda dapat membuat taruhan pada industri itu,” kata Erick Ormsby, CEO Alcosta Capital Management di San Ramon, California. ( liputan6.com )