Kekhawatiran Ekonomi China Bikin Harga Minyak di Bawah US$ 50

Ilustrasi Tambang Minyak (Liputan6.com/M.Iqbal)RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga minyak dunia melemah 5 persen, dan mencatatkan level harga terendah sejak Januari. Hal itu membuat harga minyak acuan Brent di bawah US$ 50 per barel seiring aktivitas pabrik merosot di China sehingga menekan harga komoditas.

Harga minyak Brent melemah 5,2 persen atau sekitar US$ 2,69 menjadi US$ 49,52 per barel. Sementara itu, harga minyak Amerika Serikat (AS) turun US$ 1,95 atau 4,1 persen menjadi US$ 45,17.

Sejumlah sentimen negatif membebani harga minyak. Pertama, kelebihan pasokan minyak global memberi kekhawatiran terhadap penjualan di masa mendatang. Ditambah bursa saham China tertekan, seiring China menjadi salah satu konsumen energi terbesar di dunia juga mempengaruhi harga minyak.

Apa lagi data terbaru menunjukkan kalau pertumbuhan manufaktur China melambat pada Juli. Di sisi lain belanja konsumen Amerika Serikat (AS) naik meski pertumbuhannya melambat dalam empat bulan seiring permintaan mobil melemah. Sentimen itu membuat harga minyak mentah AS jatuh 21 persen pada Juli, dan terburuk sejak 2008.

“Kelemahan ekonomi telah membuat harga minyak tertekan,” ujar Matt Smith, Kepala Penelitian Komoditas di ClipperData, seperti dikutip dari laman Reuters, Selasa (4/8/2015).

Selain minyak, harga komoditas cenderung tertekan. Berdasarkan indeks komoditas Reuters yang berisi 19 komoditas juga mencatatkan penurunan tajam sejak 2003. Hal itu menyusutkan keuntungan harga komoditas dalam satu dekade. Hal itu seiring sentimen China.

Berdasarkan saruvei Reuters menunjukkan kalau produksi minyak oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencapai tingkat bulanan tertinggi dalam sejarah pada Juli 2015. Hal ini memperkuat spekulasi kalau Arab Saudi dan anggota OPEC fokus mempertahankan pangsa pasar. Para hedge fund pun mengurangi eksposur menguat terhadap harga minyak mentah AS dalam lima tahun ini. (Ahm/Ndw)

Sumber : http://bisnis.liputan6.com