Kebijakan Donald Trump Tekan Wall Street

TRUMPRIFANFINANCINDO – Bursa saham Wall Street, Amerika Serikat pada perdagangan Kamis 17 Agustus 2017 mengalami koreksi tajam. Ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kemampuan Presiden AS Donald Trump menjalankan agenda ekonominya. Teror di Barcelona, Spanyol, juga berimbas terjerembabnya bursa Wall Street.

Investor merespon negatif rumor bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih, Gary Cohn yang juga mantan bos Goldman Sachs mengundurkan diri. Namun sumber di Gedung Putih membantah isu pengunduran diri Cohn.

Indeks Dow Jones Industrial Average di Bursa Wall Street pada Kamis 1,24 persen atau 274,14 poin ditutup di level 21.750,73. Begitu pula dengan indeks S & P 500 terkoreksi 1,54 persen atau 38,10 poin menjadi 2.430,01. Sementara indeks Nasdaq anjlok 1,94 persen atau 123,19 poin di posisi 6.221,91. Saham emiten bank investasi mencatat penurunan terbesar saham-saha unggulan (bluechip) di Dow Jones.

Sejak sesi pembukaan, Bursa Wall Street sudah menunjukkan tren menurun. Indeks semakin tertekan pada pukul 11.00 waktu setempat setelah tersebarnya penyerangan di Barcelona. Penyerangan itu mengakibatkan 13 orang tewas dan 50 terluka.

Seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat 18 Agustus 2017, sebelum merebaknya berita teror di Barcelona, investor sudah resah dengan isu Presiden Donald Trump membubarkan dua dewan bisnis Gedung Putih. “Membubarkan dewan penasihat ekonomi akan semakin memicu kekhawatiran investor terhadap perekonomian As ke depan,” ucap Adam Sarhan, analis dari 50 Park Investment.

Bursa saham  Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis 17 Agustus 2017) di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemampuan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendorong agenda ekonominya.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 274,14 poin atau 1,24 persen ke level 21.750,73. Sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 kehilangan 38,1 poin atau 1,54 persen ke 2.430,01 dan Nasdaq Composite turun 123,20 poin atau 1,94 persen ke posisi 6.221,91.

Seperti dilansir Reuters, investor tampaknya kehilangan kepercayaan pada kemampuan pemerintahan Trump untuk meloloskan kebijakan pemotongan pajak dan agenda ekonomi domestik lainnya. Penyebab kekhawatiran terakhir adalah spekulasi mengenai kemungkinan kepergian direktur Dewan Ekonomi Nasional Gary Cohn.

“Anda telah memilih pemerintahan Republik yang seharusnya menjadi kabar baik bagi pasar dan untuk bisnis, dan telah ada reli saham besar berdasarkan kabar baik tersebut” kata Stephen Massocca, wakil presiden senior Wedbush Securities, seperti dikutip Reuters.

Stephen melanjutkan, dengan adanya valuasi yang dianggap tinggi di banyak saham, investor mungkin lebih cenderung menjual sahamnya.

Saham mulai tertekan dan melemah sejak awal perdagangan saham, menyusul spekulasi mengenai Cohn. Seorang pejabat Gedung Putih kemudian mengatakan bahwa Cohn bermaksud untuk tetap berada di posisinya. Setelah jeda singkat, indeks terus melemah hjingga akhir perdagangan.

Spekulasi kepergian Cohn terjadi sehari setelah Trump membubarkan dua dewan bisnis, dengan beberapa kepala eksekutif berhenti setelah memprotes ucapannya pada nasionalis kulit putih. Pada hari Kamis, Gedung Putih mengatakan bahwa Trump telah meninggalkan rencana untuk membuat dewan penasihat infrastruktur. Kinerja emiten yang mengecewakan juga turut membebani bursa saham AS.

Saham Cisco Systems turun 4 persen sehari setelah merilis laporan keuangan. Sementara saham Wal-Mart turun 1,6 persen setelah peritel tersebut melaporkan penurunan margin menusul pemangkasan harga dan investasi e-commerce.

Sumber : tempo.co