Jeda Siang, Indeks Turun Tajam 50,40 Poin

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) pada sesi I perdagangan Kamis (1/9/2016) ditutup melemah tajam 50,40 poin atau 0,94% ke level 5.335,68.

Indeks pada awal September ini terpantau tertekan. Saat pembukaan pagi tadi, IHSG dibuka jeblok 17,57 poin atau 0,33% ke level IHSG dibuka turun 17,57 poin atau 0,33% ke level 5.368,52 pada pukul 08.55 WIB.

Sejam lewat perdagangan berjalan, indeks malah makin tertekan tajam sebesar 38,54 poin atau 0,72% ke level 5.347,54, menjelang dirilisnya data inflasi bulanan oleh BPS.

Data inflasi BPS yang melansir bahwa Agustus 2016 terjadi deflasi sebesar 0,02%, yang tertinggi sepanjang 15 tahun terakhir, ternyata belum mampu menarik indeks keluar dari zona merah.

Sentimen global tampaknya masih membebani laju IHSG, dimana Pemerintah AS pada esok hari akan mengumumkan data ketenagakerjaan AS yang diperkirakan sesuai ekspektasi.

Dari 358 saham yang diperdagangkan di bursa Indonesia, sebanyak 58 naik, 228 tertekan, dan 72 tetap. Adapun nilai transaksi bersih asing pada jeda siang ini minus Rp160,1 miliar dengan aksi jual asing Rp1,167 triliun berbanding aksi beli asing Rp1,006 triliun. ( http://ekbis.sindonews.com )

Nikkei menguat, ditutup di level penutupan tertinggi 3 bulan

Saham Jepang naik tipis ke level penutupan tertinggi tiga bulan dalam perdagangan yang berombak hari Kamis setelah keuntungan bank mengimbangi pelemahan saham pertambangan, sementara banyak investor menunggu data pekerjaan AS yang bisa memberikan petunjuk tentang kapan kenaikan suku bunga akan dilakukan.

Nikkei, yang keluar masuk di wilayah positif sepanjang hari ini, naik 0,2 persen ke level 16,926.84, yang merupakan level penutupan tertinggi sejak 1 Juni.

Indeks Topix naik 0,6 persen untuk ditutup di level 1,337.38, sama halnya dengan Topix, JPX-Indeks Nikkei 400 juga naik 0,6 persen untuk mengakhiri hari di level 12,033.47. (reuters)

Laporan ADP Dorong Saham AS Tertekan

Saham-saham Amerika Serikat (AS) turun lebih jauh pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis pagi WIB), karena para investor mempertimbangkan laporan ketenagakerjaan ADP dari negara itu yang lebih baik dari perkiraan.

Mengutip Antara, Kamis 1 September, indeks Dow Jones Industrial Average turun 53,42 poin atau 0,29 persen menjadi ditutup pada 18.400,88. Indeks S&P 500 kehilangan 5,17 poin atau 0,24 persen menjadi berakhir di 2.170,95, dan indeks komposit Nasdaq berkurang 9,77 poin atau 0,19 persen menjadi 5.213,22.

Lapangan pekerjaan sektor swasta AS meningkat 177.000 pekerjaan dari Juli ke Agustus, di atas konsensus pasar bertambah 175.000 pekerjaan, menurut Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP Agustus pada Rabu. Angka ADP diawasi ketat sebagai praindikator untuk laporan penggajian atau payrolls non pertanian yang akan dirilis pada Jumat.

Laporan penggajian nonpertanian pada Jumat telah dinilai sebagai sangat penting, sejak beberapa anggota Federal Reserve AS membuka pintu untuk menaikkan suku bunganya pada September di simposium Jackson Hole, pekan lalu.

Jika pasar tenaga kerja AS cukup kuat, para analis mengatakan adalah mungkin bagi bank sentral AS untuk menaikkan suku bunga segera pada bulan depan.

Sementara itu, penjualan pending home AS (rumah yang pengurusannya belum selesai) meningkat di sebagian besar negara pada Juli, dan mencapai angka tertinggi kedua mereka dalam lebih dari satu dekade, National Association of Realtors (Asosiasi Nasional Makelar Perumahan) mengumumkan pada Rabu.

Indeks penjualan pending home naik 1,3 persen menjadi 111,3 pada Juli dari angka direvisi turun 109,9 pada Juni. Indeks ini sekarang di angka tertinggi kedua tahun ini setelah April (115,0).

Sebuah penurunan tajam dalam harga minyak juga menekan pasar. Harga minyak jatuh pada Rabu, dengan kedua kontrak minyak mentah AS dan minyak mentah Brent jatuh sekitar tiga persen, karena data pemerintah menunjukkan persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik lebih besar dari yang diperkirakan. ( http://ekonomi.metrotvnews.com )

RIFAN FINANCINDO