Investor Lokal Buru Saham, IHSG Turun Tipis

Ilustrasi IHSG  (Liputan6.com/Sangaji)RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih betah di zona merah pada perdagangan saham Selasa pekan ini. Meski demikian, laju IHSG berusaha kembali ke zona hijau menjelang penutupan perdagangan saham.

Pada penutupan perdagangan saham Selasa (28/4/2015), IHSG turun tipis 3,28 poin (0,06 persen) ke level 5.242,15. Indeks saham LQ45 melemah 0,22 persen ke level 908,65. Sebagian besar indeks saham acuan melemah kecuali indeks saham JII naik 0,41 persen ke level 701,08 dan indeks saham DBX berada di level 710,78.

Ada sebanyak 168 saham melemah sehingga menekan IHSG. Sementara itu, 135 saham menghijau sehingga menahan pelemahan IHSG. Sedangkan 78 saham lainnya diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham sektiar 225.619 kali dengan volume perdagangan 5,12 miliar saham. Nilai transaksi harian saham mencapai Rp 6,99 triliun.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham perkebunan naik 1,28 persen, sektor saham tambang mendaki 1,05 persen, sektor saham barang konsumen menanjak 2,44 persen, dan sektor saham manufaktur menguat 0,86 persen.

IHSG sempat melanjutkan pelemahan ke level 5.211,13 pada pra pembukaan perdagangan saham hari ini. Bahkan IHSG sempat sentuh level terendah 5.164,74. IHSG sentuh level tertinggi di kisaran 5.242,15.

Berdasarkan data RTI, investor asing terus melakukan aksi jual yang mencapai Rp 1,9 triliun. Sedangkan pemodal lokal membeli saham mencapai Rp 1,8 triliun.

Saham-saham yang menguat dan sebagai penggerak indeks saham antara lain saham PT Unilever Indonesia Tbk naik 5,76 persen ke level Rp 44.500 per saham, saham INCO mendaki 7,41 persen ke level Rp 2.825 per saham, dan saham ADHI menguat 3,27 persen ke level Rp 2.840 per saham.

Saham-saham yang menekan indeks saham antara lain saham LPPF turun 5,56 persen ke level Rp 17.000 per saham, saham ICBP tergelincir 5,07 persen ke level Rp 13.100 per saham, dan saham BSDE melemah 3,69 persen ke level Rp 1.960 per saham.

Kepala Riset PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan, kinerja keuangan emiten di kuartal I 2015 belum sesuai harapan pelaku pasar masih jadi sentimen di bursa saham. Ditambah pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS)/The Federal Reserve membuat nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS.

“Pelaku pasar menunggu dan berharap kepastian soal kenaikan suku bunga acuan AS. Hal itu mendorong dolar AS menguat dan rupiah melemah,” ujar Reza, saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, pelaku pasar juga mengkhawatirkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat di kuartal I 2015. Hal itu karena suku bunga acuan yang cukup tinggi di kisaran 7,5 persen dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi membuat permintaan masyarakat melambat. (Ahm/)

Sumber : liputan6.com