Inflasi Zona Euro Melonjak 1,1%

a25c10291b6216fc251b34191c7d54e6PT RIFAN FINANCINDO – Inflasi zona euro melompat ke level tertinggi lebih dari tiga tahun, didorong peningkatan harga sektor energi, makanan, alkohol dan tembakau. Tingkat inflasi secara tahunan di akhir Desember tahun lalu 1,15, menurut badan statistisk resmi Eurostat tercatat telah melompat cukup tajam dari bulan November sebesar 0,6%.

Dilansir BBC, Rabu (4/1) inflasi Desember 2016 menjadi yang paling tinggi sejak September 2013 yang berada pada level yang sama yakni 1,1%. Peningkatan cukup tinggi ini mendekati target Bank Sentral Eropa yakni di bawah 2%. Kepala ECB Mario Draghi mengatakan target yang sama ditargetkan tercapai pada 2018 atau 2019.

Bulan lalu peningkatan ini terutama didorong oleh lonjakan harga sektor energi yang naik 2,5% year on year (YoY) pada Desember, peningkatan ini lebih tinggi dari setahun. Membaiknya harga sektor energi ditopang oleh upaya pembekuan produksi minyak oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Dunia (OPEC) dalam upaya menyeimbangkan pasokan internasional.

Sementara harga makanan alkohol dan tembakau naik lebih tinggi sebesar 1,2% secara YoY, di sisi lain sektor pelayanan juga lebih mahal 1,2% dibandingkan tahun lalu. Penguatan ini membantu menghapus kekhawatiran bahwa zona Euro akan mengalami deflasi ketika pertumbuhan ekonomi terlihat masih melemah.

Namun, inflasi pada Desember naik tajam dipengaruhi inflasi inti yang juga bertambah tidak terlalu banyak dari 0,8% menjadi 0,9%, digerakkan oleh bertambahnya harga item-item seperti energi dan pangan di pasar dunia. Dalam sebuah survei terpisah dari IHS Markit memperlihatkan bahwa ekonomi zona Euro lebih cepat dalam lima setengah tahun pada Desember.

“Data survei memberikan sinyal ekspansi PDB 0,4% pada kuartal keempat. Menjadi perhatian adalah bahwa permintaan domestik cenderung tetap tenang selama 2017 di tengah ketidakpastian politik yang mendominasi untuk mengakibatkan satu tahun lagi pertumbuhan mengecewakan di seluruh wilayah secara keseluruhan,” ungkap Kepala Ekonom IHS Markit Chris Williamson.

( ekbis.sindonews.com )

Wall Street Catatkan Kenaikan Pasca-Pertemuan The Fed

PT RIFAN FINANCINDO – Pasar saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, kembali catatkan gain setelah hasil pertemuan The Fed menunjukkan bahwa pembuat kebijakan tersebut setuju bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat membutuhkan suku bunga yang lebih tinggi.

Pasar saham AS telah melonjak selama dua bulan terakhir, di tengah ekspektasi bahwa Presiden Terpilih Donald Trump akan merangsang ekonomi dengan pemangkasan pajak dan belanja infrastruktur, serta menghilangkan peraturan di industri keuangan.

Tetapi investor juga khawatir dengan adanya aturan untuk mendorong perekonomian tersebut, bisa menggerakkan inflasi dan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih agresif daripada yang diantisipasi.

Indeks Dow Jones naik 0,28% menjadi 19.938, indeks S&P 500 telah menguat 0,57% menjadi 2.270,69 dan indeks Nasdaq Composite naik 0,9% menjadi 5.477,83.

Suku bunga The Fed yang dipatok sangat rendah memang telah memicu rally pasar saham sejak krisis keuangan pada 2008, dan investor khawatir bahwa menguatnya suku bunga akan mengganggu aktivitas saham di masa depan.

Dengan kurang dari dua minggu lagi sebelum Trump dilantik, Dow Jones Industrial Average mendekati tingkat yang belum pernah digapai sebelumnya, 20.000. Investor juga mengatakan mereka perlu melihat bukti janji-janji kampanye Trump yang masih harus dibawa ke anggota parlemen Republik. ( economy.okezone.com )

PT Rifan Financindo