Inflasi April Diproyeksi Rendah

Warga berbelanja untuk memenuhi kebutuhan Ramadan di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (17/6). Meski harga sejumlah komoditi mengalami kenaikan, pedagang setempat mengaku jumlah permintaan dari warga yang berbelanja tetap mengalami peningkatan antara 50 persen hingga 100 persen untuk memenuhi kebutuhan mereka selama Ramadan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/pd/15.RIFAN FINANCINDO – Tingkat inflasi sepanjang April diproyeksi lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya menyusul diterapkannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan terjaganya pasokan pangan.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, mayoritas ekonom memprediksi tingkat inflasi pada April 2020 secara year-on-year (yoy) di kisaran 2,2%—2,9%.

Angka tersebut relatif turun tipis dibandingkan dengan infl asi pada bulan sebelumnya yang sebesar 2,96% (yoy).

Sedangkan secara rata-rata, paraekonom memprediksi tingkat infl asi pada bulan lalu sebesar 2,68%, estimasi bawah sebesar 1,5%, serta estimasi atas berada pada angka 2,93%.

Proyeksi ini sejalan dengan Survei Pemantauan Harga (SPH) yangdilakukan oleh Bank Indonesia sampai dengan pekan keempat April 2020.

Dalam survei tersebut ditemukan bahwa harga barang di pasar terkendali dan cukup rendah. Mengacu pada survei tersebut, Bank Indonesia memprediksi inflasi April 2020 sebesar 0,18 persen (month to month/mtm) atau 2,78 pesen (year on year/yoy).

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memperkirakan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April tahun ini meningkat sebesar 0,16 persen mtm, dan inflasi secara yoy sebesar 2,76 persen.

Penurunan inflasi ini disebabkan oleh terbatasnya aktivitas sosial sejalan dengan implementasi PSBB di sejumlah wilayah.

Akibatnya, kegiatan perekonomian di seluruh penjuru negeri juga lebih terbatas dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

“Persediaan makanan juga aman, berkat musim panen pada bulan lalu,” kata dia, Minggu (3/5/2020).

Dia menambahkan, penyebab inflasi pada bulan lalu adalah pergerakan harga sejumlah komoditas terutama bawang merah, gula, serta emas.

Andry menambahkan, pihaknya merevisi perkiraan inflasi 2020 dari 3,25 persen menjadi 2,69 persen menyusul rencana pemerintah untuk mengurangi beberapa harga yang diatur.

Di antaranya termasuk listrik dan bahan bakar, serta biaya transportasi yang lebih rendah, khususnya biaya transportasi udara.

“Pemerintah, juga telah memastikan bahwa persediaan makananakan tetap aman sampai akhir tahun. Dengan demikian, tidak ada tekanan signifikan dari inflasi yang didorong oleh biaya,” jelasnya.

Perkiraan inflasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi 2019 sebesar 2,59 persen (menggunakan tahun dasar baru 2018) disebabkan oleh kenaikan harga emas karena ketidakpastian yang lebih tinggi di pasar keuangan akibat pandemi Covid-19.

Kepala Ekonom PT Bank Nasional Indonesia Ryan Kiryanto menuturkan pelaksanaan PSBB memang menjadi penekan inflasi secara tahunan.

Namun program yang digulirkan untuk menangkal penyebaran Covid-19 ini juga menyebabkan adanya lonjakan distribusi barang antarkota dan antarprovinsi.

Menurutnya, larangan mudik dan PSBB menyebabkan peningkatan pengiriman barang sehingga mendongkrak inflasi dari jalur transportasi dan logistik.

Sektor lain yang mendongkrak inflasi adalah telekomunikasi. “Inflasi dari jalur telekomunikasi ditopang oleh PSBB yangg membuat traffic komunikasi virtual melonjak drastis,” katanya.

 

Sumber : bisnis