Indonesia Masuk Resesi Tahun Ini

807356d6-0431-4428-a564-f2c2465bfd2c_169RIFAN FINANCINDO – Center of Reform Economics (CORE) memprediksi Indonesia masuk ke jurang resesi ekonomi pada 2020. Ini akan menjadi resesi pertama Indonesia sejak 1998 silam.

“Ancaman resesi sudah di depan mata. Walaupun sudah new normal, tapi ekonomi kemungkinan kontraksi pada kuartal II 2020 dan kuartal III 2020,” ungkap Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal dalam video conference, Selasa (21/7).

Dalam ilmu ekonomi, suatu negara bisa dikatakan resesi apabila ekonominya minus dalam dua kuartal berturut-turut. Artinya, jika ekonomi Indonesia kuartal II dan III 2020 terkoreksi, maka Indonesia resmi masuk ke jurang resesi pada kuartal III 2020.

Faisal memprediksi ekonomi Indonesia minus 1,5 persen hingga 3 persen pada tahun ini. Menurutnya, ekonomi domestik akan minus 1,5 persen jika puncak penularan virus corona terjadi pada kuartal III 2020 dan pemerintah tidak kembali menerapkan lagi kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Sementara, perekonomian Indonesia bakal terkontraksi hingga 3 persen bila kasus penularan virus corona terus meningkat hingga kuartal IV 2020. Kemudian, Faisal memprediksi ekonomi kuartal II 2020 turun hingga 6 persen.

“Untuk kuartal ke kuartal akan terjadi kontraksi yang dalam dari 4 persen sampai 6 persen. Ini bisa dimengerti kalau dilihat penambahan kasus virus corona terus terjadi,” jelas Faisal.

Ia menjelaskan situasi ekonomi yang memburuk bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di dunia. Faisal berpendapat sentimen bukan hanya berasal dari pandemi virus corona, tapi juga pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS).

“Biasanya setiap tahun pemilihan presiden AS akan menentukan bagaimana dinamika ekonomi global. Tahun ini, pada November 2020, akan ada pemilihan presiden di AS,” kata Faisal.

Sependapat, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksi ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 minus 3,26 persen hingga minus 3,88 persen. Kontraksi ekonomi diramalkan terjadi hingga kuartal III 2020.

Dalam risetnya, Indef menyebut ekonomi Indonesia kuartal III 2020 berpotensi minus 1,3 persen hingga minus 1,7 persen. Jika ini benar-benar terjadi, maka Indonesia resmi mengalami resesi.

“Waspada dan siap siaga memitigasi kemungkinan resesi ekonomi menjadi pilihan kebijakan yang tidak terelakkan,” ungkap Indef dalam risetnya.

Sementara, Indef menilai kebijakan pemerintah dalam melonggarkan kebijakan PSBB di tengah tingginya kasus penularan virus corona menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak. Masyarakat khawatir jumlah kasus positif terus melonjak jika tak ada ketegasan dari pemerintah soal pembatasan di ruang publik.

“Dengan belum melandainya jumlah kasus positif baru virus corona, maka kesiapan Indonesia terkait kebijakan pelonggaran pembatasan masih dipertanyakan. Ini sekaligus membuktikan efektivitas berbagai kebijakan di era normal baru termasuk upaya pemulihan ekonomi nasional belum efektif,” papar Indef.

Selanjutnya, Indef juga menyoroti keputusan pemerintah yang memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 menjadi 6,34 persen. Defisit melebar karena biaya penanganan pandemi virus corona di dalam negeri membengkak dari Rp405,1 triliun menjadi Rp695,2 triliun.

“Defisit diperlebar secara masif namun realisasi anggaran masih sedikit,” kata Indef.

Diketahui, pemerintah mengalokasikan dana penanganan pandemi virus corona untuk berbagai sektor. Mayoritas dana digunakan untuk bantuan sosial (bansos) yang mencapai Rp203,9 triliun.

Kemudian, untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar Rp123,46 triliun, insentif usaha Rp120,61 triliun, kementerian/lembaga atau pemerintah daerah Rp106,11 triliun, kesehatan Rp87,55 triliun, dan pembiayaan korupsi Rp53,55 triliun.

Hanya saja, realisasinya masih terbilang minim. Data Kementerian Keuangan per 3 Juli 2020 menunjukkan realisasi di sektor kesehatan baru sebesar 4,68 persen, bansos 34,06 persen, kementerian/lembaga dan pemda 4,01 persen, UMKM 22,74 persen, pembiayaan korporasi nol persen, dan insentif usaha 15 persen.

Sebelumnya, Bank Dunia (World Bank) meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 hanya nol persen. Artinya, ekonomi Indonesia bakal stagnan tahun ini.

Country Director World Bank Indonesia Satu Kahkonen mengatakan proyeksi tersebut berdasarkan pada tiga hal. Pertama, ekonomi global terkontraksi sebesar 5,2 persen pada 2020 karena pandemi virus corona.

Kedua, perekonomian di Indonesia kembali dibuka sepenuhnya pada Agustus 2020. Ini artinya, sudah tidak ada PSBB lagi di berbagai kawasan.

Ketiga, tidak ada gelombang kedua penularan virus corona. Jika ini terjadi, maka ekonomi domestik akan semakin melambat.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,3 persen tahun ini. Proyeksi laju ekonomi itu memburuk dari prediksi pada April lalu, 0,5 persen.

IMF memprediksi ekonomi Indonesia kembali positif pada 2021 di level 6,1 persen. Proyeksi itu menurun 2,1 poin persentase dari sebelumnya, 8,2 persen.

Sementara, laju ekonomi global tahun ini diprediksi minus 4,9 persen. Angkanya lebih dalam dari proyeksi sebelumnya yang minus 3 persen.

 

Sumber : cnnindonesia