Indonesia Keluar dari Resesi

36651979-21ba-4534-a736-686245fa0e29_169RIFAN FINANCINDO – Penguatan rupiah akhirnya terhenti di angka 6 hari beruntun. Mata Uang Garuda pada perdagangan Kamis (5/8/2021) akhirnya melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS), padahal ada kabar bagus dari dalam negeri. Indonesia resmi lepas dari resesi di kuartal II-2021.

Melansir data dari Refinitiv, rupiah membuka perdagangan hari ini dengan stagnan di Rp 14.310/US$, setelahnya rupiah terdepresiasi hingga 0,31% ke Rp 14.355/US$. Di akhir perdagangan rupiah berada di Rp 14.340/US$, melemah 0,21% di pasar spot.

Sebelumnya, dalam 3 hari perdagangan pekan ini sudah menguat lebih dari 1%, sehingga memicu aksi ambil untung (profit taking), alhasil rupiah pun melemah meski Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dari prediksi.

Pada kuartal II-2021, output ekonomi yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 7,07% dibandingkan kuartal II-2020 (year-on-year/yoy). Lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar.

Ini merupakan pertumbuhan PDB pertama setelah mengalami kontraksi selama 4 kuartal beruntun, artinya Indonesia sah keluar dari resesi.

Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan PDB akan tumbuh 6,505% yoy. Sedangkan konsensus pasar versi Reuters menghasilkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 6,57% yoy pada April-Juni 2021.

Margo Yuwono, Kepala BPS, menyebut ada dua faktor utama yang membuat ekonomi Indonesia tumbuh tinggi. Pertama adalah basis yang rendah (low-base effect).

Pada kuartal II-2020 yang menjadi perbandingan, PDB Indonesia mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) lebih dari 5% yoy karena pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Jadi kalau ada perbaikan sedikit saja pasti ada pertumbuhan yang tinggi.

Kedua, memang ada perbaikan dari berbagai aktivitas ekonomi. Ekspor pada kuartal II-2021 tumbuh 55,89% yoy seiring kenaikan permintaan dari negara-negara mitra dagang Indonesia.

“Begitu juga impor yang pada triwulan II tumbuh 50,21% yoy. Impor bahan baku/penolong tumbuh tinggi, menunjukkan ekonomi domestik mengalami perbaikan,” lanjut Margo.

Konsumsi rumah tangga, tambah Margo, juga membaik. Ini terlihat dari peningkatan penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan Pajak Pertambahan Nilai-Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN-PPnBM). Ini menunjukkan pendapatan dan konsumsi masyarakat tumbuh.

“PPh Pasal 21 tumbuh 21,5% dan PPnPB tumbuh 8%. Ini menjadi indikasi peningkatan pendapatan dan belanja masyarakat,” demikian Margo.

Dolar AS kembali diburu pelaku pasar terlihat dari pergerakannya pada perdagangan Rabu. Kemarin, indeks dolar AS sebenarnya merosot 0,3% pasca rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) versi Automatic Data Processing Inc. (ADP) yang mengecewakan. Data ini dijadikan acuan data tenaga kerja versi pemerintah yang akan dirilis Jumat nanti.

Selain inflasi, data tenaga kerja merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter, dalam hal ini tapering.

ADP kemarin melaporkan sepanjang bulan Juli perekonomian AS mampu menyerap 330.000 tenaga kerja, turun lebih dari setengah dari bulan sebelumnya 680.000 tenaga kerja, serta jauh di bawah prediksi kenaikan menjadi 695.000 tenaga kerja.

Sementara untuk data kerja versi pemerintah yang akan dirilis Jumat, hasil polling yang dilakukan Reuters menunjukkan tingkat pengangguran AS di bulan Juni turun menjadi 5,7% dari bulan sebelumnya 5,9%.

Sementara perekrutan tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP) sebanyak 880.000 orang, lebih tinggi dari bulan Mei 850.000 orang.

Hasil polling tersebut terlihat cukup bagus, tetapi dengan rilis ADP yang buruk, kemungkinan data tersebut mengecewakan kini semakin besar.

Alhasil, spekulasi tapering baru akan dilakukan tahun depan semakin menguat dan dolar AS merosot.

Tetapi tidak lama, indeks dolar AS berbalik menguat setelah wakil ketua The Fed, Richard Clarida, yang berbicara dalam sebuah acara dengan tema Outlooks, Outcomes, dan Prospects for U.S. Monetary Policy” yang diadakan oleh Peterson Institute for International Economics.

Dalam acara tersebut Clarida mengindikasikan tapering bisa dilakukan di tahun ini, dan suku bunga akan dinaikkan pada awal 2023.

Clarida mengatakan pasar tenaga kerja memang perlu perbaikan lebih lanjut, tetapi inflasi dikatakan hampir mencapai target rata-rata 2%.

“Melihat outlook tersebut dan selama ekspektasi inflasi tetapi di 2% yang merupakan target jangka panjang, normalisasi kebijakan (kenaikan suku bunga) bisa dimulai di 2023,” kata Clarida, sebagaimana dilansir CNBC International, Rabu (5/8/2021).

Alhasil, indeks dolar AS berbalik menguat 0,21% kemarin.

 

Sumber : cnbcindonesia