Indeks Utama Wall Street Anjlok

Traders work on the floor of the New York Stock Exchange (NYSE) as the market closes in New York, U.S., October 3, 2016.  REUTERS/Lucas Jackson

RIFAN FINANCINDO – Tiga indeks utama Wall Street anjlok pada penutupan Senin (24/2). Hal tersebut terjadi karena investor memilih menyelamatkan asetnya setelah lonjakan kasus virus corona di luar China yang mulai mengerek kekhawatiran tentang dampak ekonomi global dari potensi wabah covid-19.

Investor menjual aset berisiko dan bergegas masuk ke aset yang lebih aman seperti emas dan US Treasury setelah negara-negara termasuk Iran, Italia, dan Korea Selatan melaporkan peningkatan kasus virus corona selama akhir pekan. Ini terjadi ketika China mulai melonggarkan pembatasan tanpa ada kasus baru yang dilaporkan di Beijing dan kota-kota lain.

Indeks acuan S&P 500 dan indeks blue-chip berbalik negatif untuk tahun ini bahkan Dow Jones turun lebih dari 1.000 poin, hanya ketiga kalinya dalam sejarah untuk penurunan besar dalam satu hari. Baik Dow dan S&P mencatat penurunan persentase satu hari terbesar sejak Februari 2018.

Di sisi lain, indeks teknologi, Nasdaq, memiliki persentase penurunan terbesar, turun 3,71%.

“Kami tidak mungkin membuat kemajuan lebih tinggi sampai kami memiliki bukti bahwa penyebaran virus corona melambat,” kata Mark Luschini, kepala strategi investasi di Janney Montgomery Scott di Philadelphia.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 1.031,61 poin, atau 3,56%, menjadi 27.960,8, S&P 500 kehilangan 111,86 poin, atau 3,35%, menjadi 3.225,89 dan Nasdaq Composite turun 355,31 poin, atau 3,71%, menjadi 9.221,28.

Semua dari 11 sektor utama S&P ditutup di zona merah, dipimpin oleh penurunan terbesar yang terjadi di sektor energi mencapai 4,7% dan diikuti oleh penurunan 4,2% pada saham teknologi.
Apple Inc turun 4,8% karena data menunjukkan penjualan smartphone di China anjlok lebih dari sepertiga di Januari.

Pembuat chip yang terpapar oleh penjualan China juga jatuh, dengan indeks Philadelphia SE Semiconductor anjlok 4,8%, sementara kekhawatiran tentang pertumbuhan perjalanan membatasi menyeret NYSE Arca Airline Index yang terjun bebas 6%.

Dari sektor S&P lainnya yang tahan banting seperti real estat dan indeks kebutuhan pokok konsumen turun paling sedikit pada hari itu.

Imbal hasil Obligasi Amerika Serikat (AS) turun ke level terendah sejak 2016 karena investor mencari keamanan di obligasi pemerintah, sementara inversi kurva imbal hasil antara oblogasi tenor 3 bulan dan 10 tahun semakin meningkat dalam apa yang sering dianggap sebagai prediktor resesi.

Menambah kekhawatiran, Goldman Sachs memangkas perkiraan pertumbuhan Negeri Paman Sam pada Minggu (23/2) dan memperkirakan dampak yang lebih parah dari epidemi virus corona.

Indeks Volatilitas CBOE, yang mengukur kecemasan investor, mencatat lonjakan satu hari terbesar sejak Februari 2018 dan mengakhiri hari di 25,03, level penutupan tertinggi sejak Januari 2019.

“Ada kekhawatiran mendasar yang ada di luar sana, dan jelas selama akhir pekan, itu hanya meningkat,” kata Stacey Gilbert, manajer portofolio untuk derivatif di Glenmede Investment Management di Philadelphia.

Tiga indeks utama Wall Street telah mencapai rekor tertinggi pekan lalu, sebagian karena optimisme bahwa ekonomi global, didukung oleh bank sentral, akan dapat pulih kembali setelah kelemahan jangka pendek terkait dengan virus.

Secara teknikal, indeks S&P 500 jatuh di bawah moving average (MA) 50 dan Dow tergelincir di bawah moving average (MA) 100, semua indikator teknis diawasi dengan cermat.

Asuransi kesehatan seperti UnitedHealth Group Inc dan Cigna Corp melemah hampir 8% setelah Senator Bernie Sanders, yang mendukung penghapusan asuransi kesehatan swasta, memperkuat posisinya untuk nominasi calon presiden dari Partai Demokrat dengan kemenangan di kaukus Nevada.

Luschini dari Janney Montgomery Scott mengatakan bahwa sementara virus corona “sejauh ini merupakan pengaruh utama” untuk penurunan pasar pada Senin, para investor, katanya, “juga mulai menghalangi peluang Sanders menjadi calon Demokrat.”

Dalam titik terang yang langka, Gilead Sciences Inc, yang telah menjajal antivirusnya pada kera yang terinfeksi virus corona berhasil naik 4,6%.

Sumber : kontan