Indeks Shanghai ke Zona Merah

09f44ec9-1c4e-4b07-8ac1-b77668cec7ea_169RIFAN FINANCINDO – Bursa saham China dibuka turun pada perdagangan hari ini. Hingga berita ini diturunkan, indeks Shanghai turun 0,14% ke level 2.897.4, sementara indeks Hang Seng naik 0,19% ke level 25.713,29.

Klaim sepihak dari Presiden AS Donald Trump membuat pihak China berang yang pada akhirnya mengakibatkan saham-saham di sana dilego pelaku pasar.

Berbicara di hadapan reporter di sela-sela pertemuan dengan para pimpinan negara-negara Group of Seven (G-7) di Prancis, Trump menyebut bahwa kedua negara akan mulai berbincang dengan sangat serius.

“China menelepon delegasi tingkat tinggi kami di bidang perdagangan tadi malam dan mengatakan ‘mari kembali ke meja perundingan’ sehingga kami akan melakukannya dan saya rasa mereka ingin melakukan sesuatu. Mereka telah sangat tersakiti namun mereka sadar bahwa inilah langkah yang tepat untuk dilakukan dan saya memiliki rasa hormat yang besar untuk itu. Ini adalah perkembangan yang sangat positif untuk dunia,” kata Trump, dilansir dari CNBC International.

Namun kemudian, pihak China membantah bahwa pembicaraan via sambungan telepon itu dilakukan. Kemarin (27/8/2019) malam waktu setempat, China kembali buka suara. China kembali menegaskan bahwa perbincangan melalui sambungan telepon yang dibangga-banggakan oleh Trump tersebut tidak pernah terjadi.

“Saya belum mendengar kejadian terkait dua sambungan telepon yang disebut oleh pihak AS pada akhir pekan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, dilansir dari CNBC International.

China kemudian mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan AS yang kembali menetapkan bea masuk yang lebih tinggi bagi importasi produk asal China. Menurut Beijing, langkah AS tersebut sama sekali tak konstruktif.

“Sangat disayangkan bahwa AS telah lebih lanjut menaikkan bea masuk bagi produk ekspor China ke AS. Tekanan yang ekstrim ini benar-benar berbahaya bagi kedua belah pihak dan sama sekali tidak konstruktif,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, dilansir dari CNBC International.

Bisa jadi, dalam waktu dekat perang dagang kedua negara akan kembali tereskalasi dan membuat laju perekonomian kedua negara, berikut dunia, mengalami yang namanya hard landing.

 

Sumber : cnbcindonesia