IHSG Melesat Nyaris 5% Sepekan

ilustrasi-ihsg-cnbc-indonesia-tri-susilo-5_169RIFAN FINANCINDO – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat nyaris 5% sepanjang pekan lalu ke 6.151,729. Dalam 5 hari perdagangan, IHSG mampu menguat sebanyak 4 kali.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 417 miliar di pasar reguler. Tetapi jika ditambah dengan pasar nego dan non tunai total investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) sebesar 927 miliar.

Serangkaian data ekonomi dari dalam negeri pada pekan lalu mampu memberikan sentimen positif ke pasar saham.

IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) Indonesia periode Januari 2021 sebesar 52,2. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 51,3.

PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula. Kalau sudah di atas 50, maka artinya dunia usaha sedang memasuki masa ekspansi.

Yang bagus dari ekspansi tersebut adalah terjadi saat berlangsung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Hal tersebut dikhawatirkan akan memperlambat pemulihan ekonomi Indonesia, sebab kegiatan masyarakat banyak yang dibatasi. Tetapi nyatanya sektor manufaktur Indonesia justru semakin berekspansi.

Kemudian Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun lalu mengalami kontraksi (tumbuh negatif) sebesar 2,07%. Rilis tersebut sedikit lebih baik dari konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2020 di -2,1%.

Kemudian Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa bulan Januari 2021 mencatat rekor tertinggi sepanjang masa US$ 138 miliar. Kenaikan cadangan devisa tersebut berarti BI punya lebih banyak amunisi untuk menstabilkan rupiah kala mengalami gejolak.

Stabilitas rupiah tersebut akan membuat investor asing lebih nyaman berinvestasi di Indonesia, sebab risiko kerugian kurs akan menurun.

Sementara itu dari eksternal sepanjang pekan lalu sentimen pelaku pasar juga mulai pulih. Pada hari Jumat bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) berhasil menguat, indeks S&P 500 bahkan kembali mencatat rekor tertinggi sepanjang masa.

Rekor tersebut tentunya bisa menginspirasi bursa saham Asia termasuk IHSG pada perdagangan hari ini, Senin (8/2/2021).

Secara teknikal, IHSG pada perdagangn Kamis pekan (4/2/2021) membentuk Doji, secara psikologis pola ini mengindikasikan pasar masih kebingungan menentukan kemana arah IHSG. Artinya peluang IHSG ambrol atau melesat sama besarnya. Meski sehari setelahnya IHSG mampu membukukan penguatan, tetapi tekanan masih tetap ada.

Kabar baiknya, IHSG mampu bertahan di atas 6.000 dan rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA50).

IHSG sebelumnya menembus ke bawah MA 50 setelah mengalami kemerosotan 7 hari beruntun pasca membentuk pola 3 gagak hitam (three black crow). Pola tersebut merupakan sinyal pembalikan arah, dari sebelumnya dalam tren menanjak berubah menjadi turun, atau “malapetaka” bagi IHSG.

Pola three black crow terdiri dari 3 candle stick yang menurun, dengan posisi penutupan candle terakhir selalu lebih rendah dari candle sebelumnya.

IHSG yang kini berada di atas MA 50 memberikan peluang berlanjunya penguatan IHSG, sekaligus menghentikan “bayang-bayang” tiga gagak hitam.

Tetapi jika kembali ke bawah 6.000, maka risiko berlanjutnya penurunan kembali muncul, dengan target ke kisaran 5.600 dalam beberapa pekan ke depan.

Level 5.600 berada di dekat dengan MA 100 serta Fibonnanci Retracement 61,8% yang bisa menjadi support kuat. Fibonnaci tersebut ditarik dari level tertinggi September 2019 di 6.414 ke level terlemah tahun 2020 di 3.911 pada grafik harian.

Sementara itu Indikator stochastic pada grafik harian mulai keluar dari wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Sebaliknya, stochastic pada grafik 1 jam kini mulai turun dari wilayah jenuh beli.

Seperti disebutkan sebelumnya, dengan berada di atas MA 50, IHSG berpeluang kembali menguat, selama mampu bertahan di atasnya.

Resisten terdekat berada di kisaran 6.160, Jika mampu ditembus, IHSG berpotensi menguat ke 6.200. Resisten selanjutnya berada di kisaran 6.260.

Sementara itu support terdekat berada di 6.050 hingga 6.040. Jika ditembus, IHSG berpeluang turun ke level psikologis 6.000. Support selanjutnya berada di 5.950 hingga 5.920.

 

Sumber : cnbcindonesia