IHSG Bergerak di Zona Hijau Pagi Ini

beiRIFAN FINANCINDO – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (18/10/2019). Sampai berita ini diturunkan, indeks saham acuan di Indonesia tersebut menguat 0,09% ke level 6.186,44.

Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang melaju di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei naik 0,43%, indeks Shanghai menguat 0,13%, indeks Hang Seng terkerek 0,13%, dan indeks Kospi bertambah 0,28%.

Angin segar yang dibawa oleh Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin terkait hubungan AS-China di bidang perdagangan sukses memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning.

Untuk diketahui, sebelumnya pelaku pasar sempat ragu bahwa AS dan China akan benar-benar menandatangani kesepakatan dagang tahap satu yang sudah disetujui secara lisan oleh keduanya dalam negosiasi tingkat tinggi di Washington pada pekan lalu.

Melansir CNBC International, seorang sumber menyebut bahwa China ingin bernegosiasi lebih lanjut dengan AS sebelum meneken kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara.

Sumber tersebut kemudian menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He bisa dikirim ke Washington sebelum akhir bulan ini guna meluruskan poin-poin dalam kesepakatan dagang tahap satu yang masih mengganjal di hati pihak China.

Namun, Mnuchin membawa angin segar dengan membantah pemberitaan tersebut. Dirinya membantah bahwa China belum setuju dengan isi dari kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara.

Mnuchin justru mengungkapkan bahwa negosiator dagang dari AS dan China kini tengah bekerja untuk memfinalisasikan teks kesepakatan dagang tahap satu untuk kemudian ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kala keduanya bertemu pada bulan depan dalam gelara KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Sebagai informasi, kesepakatan dagang tahap satu ini akan menjadi jawaban dari kritik AS terhadap China seputar praktik pencurian kekayaan intelektual. Selain itu, permasalahan defisit neraca dagang AS dengan China juga akan dijawab melalui kesepakatan dagang tahap satu, seiring dengan dimasukannya komitmen China untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar.

Sebagai gantinya, AS setuju untuk membatalkan pengenaan bea masuk baru bagi produk impor asal China yang sedianya akan dieksekusi pada pekan ini.

Lebih lanjut, perkembangan seputar proses perceraian Inggris dengan Uni Eropa (Brexit) yang menggembirakan ikut memantik aksi beli di bursa saham Asia. Kemarin (17/10/2019), Inggris dan Uni Eropa berhasil menyepakati draf terkait Brexit yang baru pasca menggelar perbincangan selama 11 jam.

Memang, hingga saat ini ada kekhawatiran bahwa draf tersebut akan ditolak di parlemen. Namun setidaknya, disepakatinya draf terkait Brexit yang baru membuat pelaku pasar kembali optimistis bahwa Inggris dan Uni Eropa bisa berpisah secara baik-baik.

Sebelumnya, Bank of England yang merupakan bank sentral Inggris telah memperingatkan bahwa no-deal Brexit bisa mendorong Inggris jatuh ke jurang resesi.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Di sisi lain, sentimen negatif bagi bursa saham Asia datang dari rilis angka pertumbuhan ekonomi China. Pada pagi hari ini, China mengumumkan bahwa perekonomiannya hanya tumbuh di level 6% secara tahunan pada kuartal III-2019, lebih rendah dari konsensus yang sebesar 6,1%, seperti dilansir dari Trading Economics. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2019 juga lebih rendah dibandingkan capaian pada kuartal II-2019 yang sebesar 6,2%.

 

Sumber : cnbcindonesia