0

Heboh Metaverse Merasuki Investor Kripto

ilustrasi-cryptocurrency-photo-by-art-rachen-on-unsplash_169RIFAN FINANCINDO – Metaverse menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini usai raksasa media sosial Facebook berganti nama menjadi Meta dan mengumumkan akan masuk ke pengembangan teknologi metaverse. Hal tersebut turut berdampak ke dunia kripto (cryptocurrency) di mana sejumlah token yang berkaitan dengan metaverse banyak diburu akhir-akhir ini.

Secara sederhana, metaverse adalah dunia digital atau virtual (maya) yang menggabungkan beberapa elemen teknologi, seperti virtual reality, augmented reality dan video hingga media sosial.

Sebenarnya, istilah metaverse bukanlah hal yang baru. Melansir USA Today, Penulis Neal Stephenson dianggap sebagai pencipta istilah “metaverse” dalam novel fiksi ilmiah (science fiction) miliknya yang terbit pada 1992 “Snow Crash”. Di dalam novel itu, ia membayangkan avatar yang mirip manusia hidup di bangunan 3D yang tampak nyata dan lingkungan realitas virtual lainnya.Singkatnya, dalam metaverse, penggunanya bisa melakukan banyak hal seperti di dunia nyata, mulai dari bekerja, bermain game, terhubung dengan orang lain dalam segala hal, membuat karya seni, hingga menonton konser.

Sejak itu, sejumlah perkembangan terjadi, mulai dari dunia virtual online yang menggabungkan augmented reality, virtual reality, hingga avatar holografik 3D, video, dan sarana komunikasi lainnya.

‘Bau-bau’ metaverse juga sudah ada di dunia game online seperti Fortnite, Minecraft, dan Roblox. Sejumlah perusahaan di balik game tersebut memiliki ambisi untuk menjadi bagian dari perkembangan metaverse.

“Bukan rahasia lagi bahwa Epic berinvestasi dalam membangun metaverse,” kata pendiri dan CEO Epic Games Tim Sweeney saat itu, dilansir dari USA Today.

Sementara, melansir CBS News, Meta-nya Facebook, yang berubah nama sejak bulan lalu, berencana untuk menginvestasikan US$ 10 miliar tahun ini untuk mengembangkan produk yang mendukung augmented reality dan virtual reality, seperti tangan robot, kacamata VR berteknologi tinggi dan aplikasi perangkat lunak canggih.

Bisa dikatakan, metaverse adalah dunia virtual alias maya dengan ekonomi yang juga virtual, yakni menggunakan alat pembayaran mata uang digital macam kripto (cryptocurrency). Memang, untuk saat ini, perkembangan ekonomi virtual ala metaverse masih dini.

Dalam hal ini, seperti dilansir dari Fool.com, transaksi pertukaran uang virtual menggunakan kripto hampir berlangsung seketika berkat teknologi blockchain di belakangnya yang dirancang untuk membangun kepercayaan dan memastikan keamanan.

Nantinya, di masa depan, barangkali seseorang lebih memilih membeli pakaian untuk online avatar–alias representasi visual seseorang untuk digunakan dalam dunia digital–tinimbang pakaian nyata. Atau, lebih memilih membeli karya seni virtual yang dipajak di galeri virtual ketimbang karya seni asli.

Saat ini, pengembang yang masuk ke metaverse sebenarnya sudah menggunakan mata uang kripto sebagai alat pembayaran, contohnya di Decentraland dan Sandbox.

Jika seseorang mengunjungi Decentraland, yang mengklaim sebagai dunia virtual atau online pertama yang terdesentralisasi secara penuh, ia akan membutuhkan token kripto MANA untuk membeli sesuatu, seperti tanah hingga gedung. Di sana pengguna akan bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang dengan berbagai avatar.

Melansir Reuters, baru-baru ini, sepetak real estat virtual di dunia online Decentraland dijual senilai US$ 2,4 juta mata uang kripto atau setara dengan Rp 34,08 miliar (dengan asumsi kurs Rp 14.200/US$).

Adapun pembeli real estat tersebut adalah anak perusahaan Tokens.com, yang disebut Metaverse Group, seharga 618.000 MANA pada hari Senin (22/11).

Di Decentraland, tanah dan barang-barang lainnya dijual dalam bentuk non-fungible token (NFT), sejenis aset kripto.

Bisa dikatakan, penggemar kripto membeli tanah di sana sebagai investasi spekulatif, dengan menggunakan kripto asli Decentraland MANA.

NFT adalah aset digital yang mewakili aset di dunia nyata. Ini seperti sertifikat digital bagi mereka yang memiliki foto, video atau bentuk virtual lainnya. Hal ini akan tercatat di blockchain. Bila sudah dienkripsi di blockchain, pihak lain tidak dapat menduplikasi atau mereplikasi aset tersebut.

Bahkan tak hanya sekadar karya seni, utamanya dalam bentuk digital, NFT juga diprediksi akan jadi bagian masa depan industri game. Hal ini diungkapkan oleh penerbit game, Electronic Arts (EA).

Kepada para investor, Chief Executive EA, Andrew Wilson mengatakan pemain FIFA ingin melihat NFT.

“(Pemain) ingin lebih banyak modalitas dalam permainan di dalam game, yang melampaui sekedar sepak bola 11 lawan 11,” kata dia, dikutip BBC, Minggu (7/11).

NFT mengubah industri game karena memungkinkan orang untuk memiliki dan mengambil keuntungan dari item yang mereka peroleh atau bangun dalam game–lalu membawa keuntungan atau item tersebut ke dunia nyata.

Ambil contoh, jika Anda berpartisipasi dalam game seperti Axie Infinity (AXS), hadiah yang Anda buat hanya akan bernilai dalam game itu. Sekarang, pemain Axie mendapatkan hadiah atau rewards dalam cryptocurrency yang memiliki nilai di luar game tersebut.

Begitupula dengan Sandbox yang merupakan sebuah metaverse virtual tempat pemain dapat membangun, memiliki, dan memonetisasi pengalaman bermain game mereka. Pemain harus memiliki token SAND untuk membeli sesuatu di sana.

Seiring dengan ramainya perbincangan soal metaverse, token metaverse pun banyak diborong para investor dan trader. Empat token metaverse dengan kapitalisasi pasar jumbo melonjak.

Token MANA, mengacu pada data CoinGecko, Jumat (26/11), pukul 08.57 WIB, melonjak 37,7% dalam sepekan. Kemudian, token SAND melambung 37,7%, AXS terkerek naik 11,8% dalam seminggu terakhir. Tidak hanya itu, token Enjin Coin (ENJ) juga melesat 42,1% dalam sepekan.

“Investor masih ingin memanfaatkan narasi metaverse sejak rebranding Facebook,” kata Juan Pellicer, seorang analis di IntoTheBlock kepada CoinDesk, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (26/11/2021).

Khusus untuk SAND, lonjakan harga token tersebut baru-baru ini juga ditopang oleh kabar soal tweet oleh raksasa barang olahraga Jerman Adidas yang tampaknya mengkonfirmasi hubungan antara kedua perusahaan.

Adidas, yang baru-baru ini masuk ke metaverse dengan meluncurkan POAP (proof of attendance protocol), pada aplikasi adidas Confirmed-nya, men-tweet pada hari Selasa (23/11) soal rencana untuk mengembangkan apa yang disebut “adiVerse” dalam kemitraan dengan The Sandbox.

Catatan saja, investor yang tertarik dengan kripto atau segala hal soal metaverse perlu melakukan banyak riset dan mempertimbangkan dengan matang soal hal tersebut sebelum berinvestasi di dalamnya.

Sebagai permulaan, Anda mungkin perlu mengunjungi metaverse untuk mencicipi suasana di sana. Ambil contoh, Anda bisa mengunjungi Decentraland sebagai tamu–dengan mendaftar dan membuat avatar Anda–tanpa memerlukan peralatan realitas virtual atau menghabiskan token MANA sepeser pun. Di sana Anda juga bisa berkomunikasi alias ngobrol dengan orang lain via avatar.
Apalagi, ide metaverse masih dalam tahap awal. Selain itu, akan ada banyak versi dan metaverse, bergantung pada perusahaan apa yang bakal membangunnya.

Sumber : cnbcindonesia

rifan financindo

Leave a Reply