Harga Minyak Terus Menguat

minyak 3PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (19/12), waktu Amerika Serikat (AS). Kenaikan tersebut ditopang oleh gangguan pipa minyak Laut Utara, pemangkasan produksi yang diinisiasi oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), serta perkiraan kembali turunnya persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak acuan Brent LCoc1 naik sebesar S$0,39 atau 0,6 persen menjadi US$63,8 per barel. Kenaikan harga juga terjadi pada minyak mentah AS West Texas Intermediate (CLc1) sebesar US$0,3 atau 0,5 persen menjadi US$56,46 per barel.

Berhentinya operasional pipa minyak Laut Utara sejak pekan lalu telah menopang harga acuan Brent. Pasalnya, Forties memegang porsi terbesar dari lima jenis minyak mentah yang digunakan sebagai pembentuk harga acuan. Pada 12 Desember lalu, Brent menyentuh level US$65,83 per barel, tertinggi sejak pertengahan 2015.

“Kami mendapatkan kabar bahwa bagian pipa yang dibuat untuk pipa Forties sedang dalam perjalanan menuju lokasi, namun gangguan masih dirasakan oleh pasar,” ujar Partner Again Capital LLC John Kilduff di New York, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (20/12),

Menurut John, gangguan pipa Forties masih akan membayangi hingga tahun baru.

Kemarin, operator pipa Forties Ineos menyatakan bakal melanjutkan upaya perbaikan yang telah diambil. Perbaikan pipa tersebut diperkirakan memakan waktu dua hingga empat minggu sejak tanggal 11 Desember, waktu dimulainya penghentian operasional.

Harga minyak juga sempat bergerak naik pasca laporan tembakan rudal dari Yemen ke Riyadh, Arab Saudi. Namun, Arab Saudi menyatakan rudal dapat dicegat, sehingga tidak memakan korban.

Selanjutnya, dukungan terhadap harga juga berasal dari kesepakatan OPEC dan produsen minyak non-OPEC untuk memangkas produksi minyak demi menjaga persediaan minyak global.

Seperti diberitakan sebelumnya, bulan lalu OPEC telah memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi sebesar 1,8 juta barel per hari (bph) dari Maret 2018 menjadi akhir tahun depan.

Namun, Senin (18/9) lalu, perusahaan minyak asal Rusia Rosneft menyatakan kesepakatan itu bisa saja diperpanjang kembali hingga melewati tahun depan.

Adapun, laporan American Petroleum Institute (API) menyatakan persediaan minyak mentah AS pekan lalu turun lebih dari perkiraan. Sementara, stok bensin meningkat dan minyak distilasi berimbang.

API mencatat persediaan minyak mentah AS merosot sebesar 5,2 juta barel menjadi 438,7 juta barel pada minggu lalu. Angka itu lebih tinggi dari perkiraan analis yang memprediksi hanya turun sebesar 3,8 juta barel.

Di sisi lain, kenaikan produksi minyak AS bakal menjadi penahan melesatnya harga minyak lebih jauh. Pemerintah AS memperkirakan produksi minyak shale bakal melonjak 94 ribu bph menjadi 6,41 juta bph pada Januari mengingat kenaikan harga minyak baka memicu aktivitas pengeboran.