Harga Minyak Terkerek Tensi Politik Arab Saudi

BBM 2RIFANFINANCINDO – Harga minyak dunia naik hampir satu persen pada penutupan perdagangan Kamis (9/11) waktu setempat. Kenaikan tersebut didukung oleh penurunan pasokan oleh eksportir utama minyak, serta berlanjutnya kekhawatiran tentang perkembangan politik di Arab Saudi.

Minyak mentah Brent LCOc1 ditutup naik 44 sen atau 0,7 persen menjadi US$ 63,93 per barel. Angka tersebut, mendekati level tertinggi selama perdagangan hari ini di US$ 64,65, yang merupakan yang tertinggi sejak Juni 2015.

Sementara itu, minyak mentah mentah AS CLc1 naik 46 sen atau 0,8 persen menjadi US$ 57,27, hampir mendekati harga tertinggi dalam dua tahun terakhir US$ 57,69 per barel. “Kenaikan ini didorong oleh perkembangan di Arab Saudi dalam beberapa hari ini dan antisipasi bahwa konsolidasi kekuasaan oleh Raja Salman dan putera mahkotanya akan berlanjut,” ujar Analis Energi Senior di Global Gas Analytics Interfax Energy Abhishek Kumar, dikutip dari Reuters, Jumat (10/11).

Kenaikan harga tersebut juga seiring dengan meningkatnya kepercayaan di pasar bahwa pertemuan OPEC yang akan datang akan menghasilkan perpanjangan kesepakatan pemangkasan produksi demi mendukung harga.

Juru bicara Kementerian Energi Arab Saudi menyebut, pihaknya akan mengurangi ekspor minyak mentah sebesar 120.000 barel per hari pada Desember dari posisi November dengan mengurangi alokasi ke semua wilayah.

Beberapa pedagang mengatakan, harga mendapat dorongan dari desas-desus yang belum dikonfirmasi bahwa Raja Saudi Salman akan menyerahkan tahta kepada putranya Putra Mahkota Mohammed Bin Salman. Rumor serupa tersebar di bulan September dan Oktober.

Harga minyak, mendapat dorongan minggu ini dari tindakan keras terhadap korupsi oyang dilakukan oleh putra mahkota Saudi. Namun, para pedagang memperlihatkan kewaspadaan terhadap kenaikan harga minyak, setelah harga brent naik 40 persen sejak Juli.

“Tidak masalah seberapa bullish fundamentalnya, ketika aset bergerak vertikal, selalu ada ruang untuk mundurnya dan konsolidasi pergerakan harga baru-baru ini,” kata Kepala Strategi Pasar AxiTrader Greg McKenna.

Pergerakan harga minyak, sebagian besar didorong oleh penurunan produksi minyak mentah dari negara-negara produsen yang dipimpin oleh negara OPEC dan Rusia. OPEC diperkirakan akan memperpanjang pembatasan produksi minyak yang habis pada Maret 2018. Jika itu terjadi, harga minyak diperkirakan akan terus menanjak.

“Dengan kesepakatan perpanjangan (pembatasan produksi) OPEC/non-OPEC, harga bisa menjadi lebih kuat dengan perkiraan sementara pada tahun depan di kisaran US$ 65 hingga US$ 70 per barel,” kata Konsultan Energi FGE.

Produksi minyak mentah AS C-OUT-T-EIA naik 67.000 barel per hari menjadi 9,62 juta bpd, tertinggi selama beberapa dekade, dan tampaknya akan meningkat lebih lanjut.

Sementara itu, persediaan minyak global meningkat pada bulan Oktober ditengah upaya penurunan produksi yang dipimpin oleh OPEC. Sementara itu, menurut perusahaan analisis Kayrros, total persediaan minyak mentah turun sekitar 93 juta barel antara bulan Juli dan November. ( cnnindonesia.com )

Leave a Reply