Harga Minyak Rebound dari Pelemahan Semalam, Jelang Data API

Rifan financindo – Harga minyak mentah rebound di sesi perdagangan Asia pada hari Selasa dari pelemahan semalam karena investor mengambil keuntungan dari jatuh tajamnya minyak pada kelebihan pasokan global.?Minyak mentah untuk pengiriman September di Bursa Perdangangan New York naik 0,25% menjadi $40,16 per barel. Investor terus memantau perkiraan Minyak mentah AS dan stok produk olahan pada akhir pekan lalu dari American Petroleum Institute Selasa malam. Angka-angka tersebut diikuti oleh data hari Rabu dari Departemen Energi AS yang lebih dipantau cermat.

Semalam, harga minyak jatuh kembali ke posisi terendah bulan April di perdagangan Amerika pada hari Senin, dekati kembali wilayah pasar zona merah sebagai tanda-tanda peningkatan produksi minyak di AS dan meningkatnya produksi di antara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak yang turut memberatkan.

Di tempat lain, di Bursa Berjangka ICE London, minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 61 sen, atau 1,4%, ke $42,92 per barel, setelah jatuh ke level terendah lebih dari tiga bulan di $42,52 pada hari Jumat.

Pekan lalu, Brent berjangka London diperdagangkan turun $3,24, atau 7,07%, penurunan mingguan kedua berturut-turut. Harga Brent mengakhiri bulan Juli dengan kerugian bulanan 12,7% karena prospek peningkatan ekspor dari produsen Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti Irak, Nigeria dan Libya, menambah kekhawatiran bahwa membanjirnya produk minyak akan mengurangi permintaan minyak mentah oleh penyuling.

Produksi minyak OPEC pada bulan Juli kemungkinan mencapai level tertinggi dalam sejarah, ditemukan survei Reuters pada hari Jumat, karena Irak memompa lebih banyak dan Nigeria berhasil mengekspor minyak mentah tambahan meskipun serangan militan terhadap instalasi minyaknya.

Pasokan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak telah meningkat menjadi 33,41 juta barel per hari (bph) pada bulan Juli dari revisi 33,31 juta barel per hari pada bulan Juni, menurut survei berdasarkan data pengiriman dan informasi dari sumber-sumber industri.

Sementara itu, di Libya, pemerintah negara itu mencapai kesepakatan dengan brigade yang mengendalikan pelabuhan minyak Ras Lanuf dan Es Sider, terminal minyak utama yang telah ditutup sejak Desember 2014, untuk memulai kembali ekspor di sana sebagai bagian dari kesepakatan politik, kata para pejabat Jumat.

Sumber: investing.com