Harga Minyak Naik Lagi oleh Pasar AS

minyak 2PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia terpantau naik pada hari Rabu, terangkat oleh penurunan persediaan minyak mentah di AS dan kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan (18/10).

Harga minyak mentah Brent crude futures LCOc1, biasa menjadi patokan internasional untuk harga minyak, berada di $58,27 pada Rabu pagi WIB, naik 39 sen atau 0,7 persen dari penutupan terakhir.

Minyak mentah berjangka US West Texas Intermediate (WTI) CLc1 berada di $52,11 per barel, naik 24 sen atau 0,4 persen, dan hampir seperempat di atas tingkat harga pertengahan Juni, demikian dilansir dari Reuters (18/10).

Para pedagang mengatakan bahwa harga telah didorong naik oleh penurunan persediaan minyak mentah AS, serta kekhawatiran pertempuran di Irak dan meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran akan dapat mengganggu pasokan.

Persediaan minyak mentah AS dilaporkan turun sebesar 7,1 juta barel dalam sepekan hingga 13 Oktober menjadi 461,4 juta barel, ujar American Petroleum Institute (API) pada Selasa malam.

“Data API dari AS semalam menunjukkan penurunan yang besar … Jika $52,83 di WTI dan $59,22 di Brent tercapai, maka minyak bakal memasuki kisaran harga baru yang jauh lebih tinggi,” kata chief market strategist pada pialang berjangka AxiTrader yang dikutip Reuters.

Data persediaan bahan bakar AS secara resmi akan dirilis hari Rabu oleh Energy Information Administration (EIA).

Menambahkan pasar Amerika yang ketat, tensi di Timur Tengah juga menunjukkan bahwa premi risiko telah diperhitungkan dalam pasar minyak.

Pasukan Pemerintah Irak merebut kota minyak Kirkuk yang dikuasai Kurdi pada awal pekan ini, menanggapi referendum kemerdekaan Kurdi. Ada kekhawatiran di pasar bahwa pertempuran dapat mengganggu pasokan.

“Dalam kasus Kurdistan, ladang minyak Kirkuk dengan produksi 500.000 barel per hari (bpd) sedang berada dalam risiko,” Bank Goldman Sachs menyatakan pada hari Selasa.

Krisis Irak ini menambah ruwetnya sengketa antara Amerika Serikat dan Iran. Jumat lalu Presiden A.S. Donald Trump menolak untuk mengakui kepatuhan Iran atas kesepakatan nuklir, membuat Kongres dalam 60 hari ke depan harus memutuskan tindakan lebih lanjut terhadap Teheran.

Pada putaran sanksi sebelumnya terhadap Iran, sekitar 1 juta bpd minyak telah dipangkas dari pasar global.

Analis Vibiznews melihat secara teknikal harga minyak US WTI berpeluang menemui resistant terdekat di $52,35 dan kemudian 52,84. Pada posisi tersebut koreksi pasar sangat mungkin terjadi. ( vibiznews.com )