Harga Minyak Naik kena ‘Arab Effect’

b8da2e03-a4ad-4bfc-a588-89de0c6097c7_169RIFAN FINANCINDO – Harga komoditas minyak mentah melanjutkan tren apresiasinya setelah Arab Saudi memutuskan untuk memangkas produksi minyaknya secara sukarela.

Dalam pertemuan para kartel minyak yang dikenal sebagai OPEC+, Arab akan memangkas produksi sebesar 1 juta barel per hari (bph) untuk mengkompensasi kenaikan output yang diinginkan oleh Rusia di bulan Februari dan Maret.

Hari ini, Rabu (13/1/2021) harga kontrak futures (berjangka) yang aktif ditransaksikan di pasar menguat lebih dari 0,5% dan membuat harga minyak berada di level tertingginya dalam 11 bulan.

Kontrak Brent menguat 0,71% semakin dekati US$ 57/barel pada 08.35 WIB. Di saat yang sama kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,66% ke US$ 53,56/barel.

Laporan Badan Informasi Energi (EIA) AS memperkirakan produksi minyak mentah AS tahun 2021 akan turun 190 ribu bph menjadi 11,1 juta bph. Kenaikan harga minyak juga dipicu oleh adanya ekspektasi stok minyak di AS mengalami penurunan.

Survei Reuters terhadap para analis menyebutkan stok minyak AS berpotensi turun 2,7 juta barel. Asosiasi industri (API) akan melaporkan stok minyak mentah AS pekan lalu turun 5,8 juta barel, jauh lebih tinggi dari perkiraan analis.

Data resmi dari pemerintah akan dirilis oleh EIA malam ini. Ini menjadi sentimen yang akan menggerakkan harga minyak selanjutnya mengingat beberapa kali laporan yang dirilis oleh asosiasi industri dan pemerintah berbeda.

Harga minyak cenderung bullish di awal tahun karena didukung oleh prospek peningkatan stimulus ekonomi di Amerika Serikat.

Presiden terpilih Joe Biden yang akan sah menjabat pada 20 Januari, telah menjanjikan stimulus ekstra triliunan dolar AS.

Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh kekhawatiran permintaan karena kasus virus korona meningkat di seluruh dunia. Reuters melaporkan, Otoritas China memberlakukan pembatasan baru di daerah-daerah sekitar Beijing pada hari Selasa dan Jepang akan memperluas keadaan darurat di luar Tokyo.

Kendati program vaksinasi darurat sudah mulai dilakukan di banyak negara. Namun kenaikan kasus infeksi Covid-19 jauh lebih cepat dan bisa memicu pembatasan yang lebih ketat akan sangat berpengaruh pada prospek pemulihan minyak tahun ini.

OPEC dalam laporan bulan Desember memperkirakan permintaan minyak tahun ini hanya akan meningkat 5,9 juta bph menjadi 95,9 juta bph. Padahal sebelumnya permintaan minyak diproyeksikan bisa tembus hingga 97 juta bph.

 

Sumber : cnbcindonesia