Harga Minyak Naik Capai Harga Tertinggi

ilustrasi-SPBU-aji-140822-5RIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah dunia naik sekitar 2 persen ke posisi tertinggi. Di mana, harga minyak mentah Brent menyentuh USD 69 per barel, dipicu tanda-tanda positif tentang kondisi ekonomi global dan pasokan yang lebih ketat. Ini mendorong kenaikan harga minyak di kuartal pertama, dalam hampir satu dekade.

Melansir laman Reuters, Selasa (2/4/2019), harga minyak mentah Brent berakhir naik USD 1,43, atau 2,1 persen, menjadi USD 69,01 per barel setelah naik ke posisi USD 69,19 per barel, tertinggi sejak November.

Sementara Benchmark harga minyak global naik 27 persen pada periode Januari-Maret. Harga minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik USD 1,45, atau 2,4 persen, menjadi USD 61,59 per barel.

Ini setelah mencapai posisi tertinggi dalam hampir lima bulan di USD 61,72. Adapun WTI naik 32 persen di kuartal pertama.

“Data PMI manufaktur yang positif dari China dan AS, dua negara dengan ekonomi besar. Dan itu telah menguatkan minat di pasar,” kata John Kilduff, mitra Again Capital Management di New York.

Pasar saham AS menguat setelah angka manufaktur yang optimis dari Amerika Serikat dan China meredakan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global.

Sektor manufaktur China secara tak terduga kembali ke pertumbuhan untuk pertama kalinya dalam empat bulan di Maret.

Angka manufaktur AS juga tercatat lebih baik dari yang diperkirakan pada Maret, membantu investor mengabaikan data penjualan ritel Februari yang melemah.

Amerika Serikat dan China mengatakan telah membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan yang berakhir pada Jumat di Beijing.

Dewan Negara China mengatakan pada hari Minggu bahwa negara itu akan terus menangguhkan tarif tambahan untuk kendaraan dan suku cadang AS setelah 1 April. Ini menjadi isyarat niat baik setelah keputusan AS untuk menunda kenaikan tarif impor Tiongkok.

Di sisi lain, pemotongan produksi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak membantu mendorong pasokan kelompok ke level terendah empat tahun pada Maret, menurut survei Reuters.

Saat eksportir utama Arab Saudi membuat pemotongan terlalu banyak, di sisi lain output Venezuela turun lebih jauh karena sanksi AS dan terjadinya pemadaman listrik.

Di sisi pasokan, booming produksi Amerika telah menguat. Pemerintah AS melaporkan pada hari Jumat bahwa output domestik produsen minyak mentah utama dunia turun lebih rendah pada Januari menjadi 11,9 juta barel per hari.

Perusahaan-perusahaan energi AS juga mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi ke level terendah dalam hampir satu tahun

Harga minyak juga ditopang sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela bersamaan dengan pemangkasan pasokan sukarela OPEC dan produsen besar lainnya.

Output minyak dari negara-negara OPEC turun 280.000 barel per hari (bph) dari Februari menjadi 30,4 juta bph, menurut survei Reuters. Ini merupakan tingkat bulanan terendah sejak 2015.

 

Sumber : www.liputan6.com