Harga Minyak Mentah Naik 30%

Kilang minyakRIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah sudah naik 30% di sepanjang tahun 2021 ini dan membuatnya pulih dari gempuran pandemi Covid-19. Namun sebenarnya ada risiko yang bisa menyebabkan harga si emas hitam mengalami koreksi.

Pada perdagangan pagi hari ini Jumat (26/2/2021), harga kontrak futures (berjangka) minyak mentah drop. Namun harga minyak masih berada di rentang posisi tertingginya dalam satu tahun terakhir.

Harga kontrak Brent turun 0,37% ke US$ 66,63/barel dan harga kontrak West Texas Intermediate (WTI) anjlok 0,71% ke US$ 63,08/barel. Ada kemungkinan harga minyak yang tembus rekor tersebut dimanfaatkan oleh para trader untuk mengambil untung (profit taking).

Tren pemulihan harga minyak mentah tak terlepas dari sentimen maupun dinamika permintaan dan pasokan di pasar. Gencarnya vaksinasi Covid-19 di berbagai negara meningkatkan optimisme bahwa perekonomian akan kembali pulih.

Mobilitas masyarakat diharapkan bisa kembali normal dan mendongkrak permintaan bahan bakar yang selama ini tertekan. Namun bisa dibilang kenaikan harga minyak juga lebih diakibatkan oleh faktor pasokan.

Cuaca dingin ekstrem yang melanda Texas dan pasokan listrik yang terbatas membuat aktivitas produksi minyak di AS terganggu. Pemerintah AS memperkirakan produksi minyak mentah anjlok 10% atau lebih dari 1 juta barel per hari (bph) yang merupakan level produksi terendah sejak 2008.

Di sisi lain komitmen para kartel yang tergabung dalam OPEC+ untuk memangkas produksi juga turut menopang harga. Arab Saudi sebagai pemimpin de facto OPEC bahkan sampai memotong jatah outputnya secara sukarela untuk bulan Februari dan Maret sebesar 1 juta bph.

OPEC+ dikabarkan bakal menghelat pertemuan pada awal Maret nanti. Namun belum jelas apakah para produsen tersebut akan mencapai konsensus tentang produksi minyak mereka.

Harga sudah terbilang pulih akibat reli panjang yang berlangsung sejak kuartal terakhir tahun lalu. Seharusnya kenaikan harga minyak akan membuat para produsen berusaha untuk meningkatkan produksinya.

Produksi yang meningkat pada akhirnya akan membawa harga minyak ke titik ekuilibrium di mana harga tak bisa terus-terusan naik dan ada ambang batas permintaan yang bisa dipenuhi.

Hanya saja peluang OPEC+ untuk menggenjot produksi minyaknya secara agresif terbilang kecil, terutama untuk Arab Saudi yang sangat teguh untuk menjaga stabilitas harga, sehingga opsi untuk menjaga defisit pasokan masih jadi prioritas utama ketika permintaan bahan bakar pulih secara gradual.

 

Sumber : cnbcindonesia