Harga Minyak Mentah AS Menguat

2da6afb4-ea1f-48f4-b422-838888492ee2_169RIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada perdagangan Kamis (29/8), waktu AS. Penguatan ini didorong oleh penurunan persediaan minyak mentah yang signifikan, khususnya pada hub pengiriman.

Selain itu, analis juga menilai harga minyak AS terkerek oleh kekhawatiran terjadinya Badai Topan Dorian yang semakin mendekati Florida. Hal itu berpotensi mendorong produsen mengurangi produksinya jika badai melewati Teluk Meksiko pada akhir pekan.

Dilansir dari Reuters, Jumat (30/8), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,93 atau 1,7 persen menjadi US$56,71 per barel.

“Ada premi badai pada harga WTI,” ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, data historis menunjukkan badai tersebut berbahaya bagi produksi di Teluk Meksiko. Pusat Badai Nasional AS menyatakan Badai Dorian diramal bakal menguat dan menjadi badai berbahaya kategori 4 pada Minggu (1/9) mendatang.

Bulan lalu, Badai Topan Barry telah mendorong perusahaan minyak lepas pantai untuk menutup 74 persen produksinya yang berujung pada kenaikan harga minyak AS.

Data pemerintah AS mencatat persediaan minyak mentah AS merosot 10 juta barel pada pekan lalu, terendah sejak Oktober 2018. Hal itu terjadi seiring penurunan impor. Sementara itu, stok bensin dan minyak distilasi masing-masing turun lebih dari 2 juta barel.

Khusus di Cushing, hub pengiriman minyak utama AS, persediaannya pada pekan lalu turun hampir 2 juta barel, terendah sejak Desember 2018.

Penurunan terjadi setelah dua jaringan pipa baru di Cekungan Permian dibuka bulan ini sehingga mengalirkan aliran minyak mentah ke Pantai Teluk AS dan mengetatkan pasokan di Cushing.

“Beberapa hal berubah secara drastis dalam 2 atau 3 bulan dan Anda akan memiliki jaringan pipa baru lagi yang akan terus mengubah perhitungan,” ujar Analis Mizuho Robert Yawger di New York.

Lalu, penguatan juga terjadi pada harga Brent sebesar US$0,59 atau 0,98 persen menjadi US$61,08 per barel. Penguatan Brent tak lepas dari meredanya kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Pada Kamis (29/8) kemarin, Kementerian Perdagangan China menyatakan China-AS akan kembali bertemu untuk membahas perdagangan pada September 2019 mendatang. Namun, harapan akan terjadinya kemajuan pembahasan bergantung pada kemampuan AS menciptakan kondisi yang mendukung.

Sejumlah media melaporkan China tidak akan melakukan aksi balasan terhadap AS dalam waktu dekat. Menurut VP Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, hal itu bisa terjadi karena tarif baru AS meredakan kekhawatiran terhadap perang dagang.

Namun, kenaikan harga minyak dunia tetap dibatasi oleh risiko pelemahan perekonomian global yang masih membayangi. Jika itu terjadi, permintaan terhadap minyak bakal menurun.

 

Sumber : cnnindonesia