Harga Minyak ‘Lemah Otot’

Minyak-wti-naikRIFANFINANCINDO – Harga minyak mentah dunia kembali tergelincir pada perdagangan Rabu (13/12), waktu Amerika Serikat (AS), sebagai dampak dari penurunan stok minyak mentah AS. Selain itu, produksi minyak mentah yang terus tumbuh dan mencetak rekor turut menekan harga minyak dunia.

Dilansir dari Reuters, Kamis (14/12), harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) terseret US$0,54 atau 1 persen menjadi US$56,6 per barel. Sementara, harga minyak mentah Brent merosot 1,4 persen atau US$0,9 menjadi US$62,44 per barel.

Data pemerintah AS mencatat stok minyak mentah AS turun 5,1 juta barel sepanjang pekan lalu atau berada di luar perkiraan. Namun, di sisi lain, stok bensin melonjak sebesar 5,7 juta barel, dua kali lipat dari perkiraan yang hanya sebesar 2,5 juta barel.

Persediaan bensin yang meningkat mengindikasikan potensi penurunan permintaan minyak mentah.

Kemudian, produksi minyak AS berhasil mencetak rekor di level 9,78 juta barel per hari (bph). Level produksi minyak tertinggi yang pernah dicapai AS adalah 10,04 juta bph, yaitu pada November 1970 silam.

“Kondisi ini seperti sebuah kantong yang berisi berbagai campuran, penarikan minyak mentah yang sedikit di atas perkiraan, namun permintaan bensin hanya turun tipis. Biasanya, di waktu sekarang-sekarang ini, Anda akan melihat permintaan yang lebih banyak,” ujar Managing Member Tyce Capital Advisors Tariq Zahir.

Harga acuan internasional sempat tertekan hingga 2,1 persen pada perdagangan Selasa (11/4) lalu. Hal itu disebabkan oleh aksi ambil untung pasca penutupan operasional pipa Forties di Laut Utara awal pekan ini.

Beruntungnya, hal itu juga membantu harga  acuan global berada di atas US$65 untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2015 lalu.

Berhentinya operasional Forties telah memberikan harga dasar, namun keuntungan pelaku pasar dengan cepat menguap seiring dengan kondisi pasar yang masih kelebihan penawaran dan kenaikan produksi yang masih terjadi di AS.

Pada Selasa lalu, Badan Administrasi Informasi AS (EIA) memperkirakan produksi minyak mentah AS bakal naik sebesar 780 ribu bph, mencetak rekor di level 10,02 juta bph.

“Fakta bahwa aksi jual banyak terjadi di pasar pasca kejadian yang menimpa Forties menunjukkan, pasar sebenarnya berupa keras untuk mengalami tren kenaikan. Pada dasarnya, sekarang kita (pasar) berada di kondisi yang sama dengan sebulan yang lalu,” tutur Konsultan Petromatrix Olivier Jacob.

Harga minyak Brent ditopang oleh ekspektasi dari penutupan operasional pipa minyak terbesar Inggris, Forties, dari lapangan minyak dan gas di Laut Utara pasca ditemukannya retakan. Forties merupakan aliran terbesar dari lima aliran minyak yang menopang harga acuan Brent.

Operator pipa yang mengangkut 460 ribu bph minyak Forties ini menyatakan masih mempertimbangkan opsi-opsi perbaikan. Namun, upaya perbaikan bakal memakan waktu berminggu-minggu.

Sebagai respons, sejumlah produsen minyak, termasuk BP dan Royal Dutch Shell, menyatakan telah menutup lapangan minyaknya. ( cnnindonesia.com )