Harga Minyak Lampaui US$ 50

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Harga minyak kembali menguat mencatatkan kenaikan selama 6 hari berturut-turut. Sementara Brent menyentuh level tinggi selama 8 pekan pada Kamis,

Penguatan harga minyak disebabkan karena produsen terbesar dunia tengah melakukan persiapan untuk berdiskusi mengenai kemungkinan pembekuan produksi.

Harga minyak acuan dunia Brent naik 88 sen atau 1,79 persen ke level US$ 50,74 tiap barelnya, hampir sama dengan perdagangan intraday pada 23 Juni.

Sementara harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate juga naik US$ 1,43 atau 3,06 persen ke level UX$ 48,22 per barel. Juga hampir sama dengan puncak harga yang terjadi pada 5 Juli lalu.

Kedua harga minyak acuan tersebut telah naik lebih dari 20 persen sejak awal Agustus. Diberitakan Organization of The Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara pengekspor lainnya kemungkinan akan kembali membahas mengenai pembekuan produksi, saat mereka bertemu di Aljazair bulan depan.

Banyak anggota OPEC yang terpuruk karena anjloknya harga minyak selama lebih dari 2 tahun ini. Terutama negara produsen seperti Iran dan Venezuela yang menghendaki harga minyak berada di atas US$ 100 untuk menyeimbangkan anggaran mereka.

“Dengan kurangnya penanaman modal dari perusahaan minyak luar, para penguasa akan menjadi harapan terbaik untuk meningkatkan produksi tahun depan dalam situasi di mana ada peluang bahwa permintaan akan melebihi output global,” ujar Analis Energi Senior di Price Futures Group Phil Fynn dilansir dari CNBC ( http://bisnis.liputan6.com )

Minyak bersiap untuk kenaikan mingguan terbesar sejak Maret setelah memasuki bull market di tengah spekulasi bahwa produsen utama dapat saja melakukan tindakan untuk mengurangi produksi dan terkait penurunan pada stok minyak mentah dan bahan bakar AS.

Minyak berjangka sedikit berubah di New York setelah menguat hampir 16 persen selama enam sesi sebelumnya. OPEC berada di jalur untuk menyetujui penurunan produksi karena anggota-anggota terbesarnya mengurangi jumlah pompa, menurut Chakib Khelil, mantan presiden kelompok tersebut. persediaan minyak mentah AS mengalami penurunan terburuk dalam lima minggu sampai di 12 Agustus, sementara stok bahan bakar turun untuk minggu ketiga, menurut data dari Energy Information Administration yang ditunjukkan pada hari Rabu lalu.

West Texas Intermediate untuk pengiriman September berada di $ 48,32 per barel di New York Mercantile Exchange, naik 10 sen sen, pada 08:00 pagi di Hong Kong. Kontrak naik 3,1 persen menjadi berakhir di $ 48,22 pada hari Kamis untuk kenaikan hari keenam, rentang waktu terpanjang sejak April 2015. Jumlah volume perdagangan sekitar 40 persen di bawah rata-rata 100-harnya. Harga naik sebesar 8,6 persen minggu ini.

Brent untuk pengiriman Oktober kehilangan 2 sen ke $ 50,87 per barel di ICE Futures Europe exchange. Kontrak naik US $ 1,04 atau 2,1 persen, menjadi berakhir di $ 50,89 per barel pada Kamis, juga memasuki bull market setelah naik lebih dari 20 persen dari terendahnya di awal Agustus. Harga naik sebesar 8,3 persen minggu ini. Minyak mentah acuan global diperdagangkan pada $ 1,94 untuk premium WTI pengiriman Oktober. ( Bloomberg )

RIFAN FINANCINDO