Harga Minyak Kembali Jatuh ke Level US$ 38,6 per Barel

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga minyak?kembali jatuh pada perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta) karena data persediaan mingguan di Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan yang cukup mengejutkan. Selain itu, data permintaan bensin atau Bahan Bakar Minyak (BBM) juga rendah di tengah tingginya stok yang dimiliki.

Harga minyak mentah acuan AS turun 7,7 persen menjadi US$ 52,53 per barel dipicu sentimen krisis penyelesaian utang Yunani.

Mengutip Wall Street Journal, Kamis (27/8/2015), minyak mentah jenis Light Sweet untuk pengiriman Oktober turun 71 sen atau 1,8 persen sehingga menetap di level US$ 38,6 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan Minyak Brent yang merupakan patokan global turun 7 sen atau 0,2 persen ke level US$ 43,14 per barel di ICE Futures Europe.

Kedua harga patokan tersebut US$ 1 di atas posisi terendah dalam enam tahun terakhir, yang telah dicetak pada Senin kemarin.

The U.S. Energy Information Administration mengungkapkan bahwa total pasokan minyak mentah dan produk olahan, termasuk bensin dan bahan bakar lainnya, naik 2,9 juta barel pada pekan yang berakhir pada tanggal 21 Agustus kemarin. Merupakan rekor tertinggi dalam data yang ada sejak 1990 lalu.

Harga minyak telah jatuh dalam beberapa pekan terakhir di tengah kekhawatiran bahwa banjir pasokan di dunia terus terjadi. Produksi minyak mentah di Amerika Serikat telah mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Selain itu, organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) juga terus memompa produksi dan tidak mau menahannya.

Sebenarnya, pada musim panas ini permintaan akan minyak olahan atau bensin cukup tinggi. Harga yang rendah membuat banyak pemilik mobil menghabiskan waktunya untuk mengendarai kendaraannya pada musim panas kali ini. Berdasarkan data dari Federal Highway Administration, setidaknya warga Amerika menempuh perjalanan 1,54 triliun mil dalam paruh pertama 2015 ini.

“Ini merupakan musim mengemudi yang baik di Amerika. Namun belum bisa menutupi tingginya persediaan yang ada,” jelas Senior Investment U.S. Bank Wealth Management, Rob Haworth. Pasokan yang ada sebenarnya sudah terlalu tinggi dan jika dilihat belum bisa diketahui kapan akan mengalami penurunan.

Para analis melihat bahwa permintaan akan BBM akan mengalami penurunan di akhir musim panas ini. Hal tersebut akan kembali membebani harga minyak?yang sebenarnya sudah cukup rendah saat ini. Permintaan BBM pada musim gugur biasanya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan musim-musim lainnya.

Berdasarkan data The U.S. Energy Information Administration, produksi minyak mentah di Amerika hampir tidak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan pekan lalu yaitu mencapai 9,3 juta barel per hari.

Sumber : http://bisnis.liputan6.com