Harga Minyak Dunia Turun

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO

PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia melemah dari posisi tertingginya dalam satu tahun, setelah OPEC mengatakan sedang berusaha untuk mencapai kesepakatan global menyangkut produksi selama setidaknya enam bulan di tengah keraguan tentang berapa banyak yang akan mengurangi surplus produksi.

Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (12/10/2016), harga minyak mentah Brent turun 73 sen atau 1,4% ke level USD52,41 tiap barelnya, mundur dari posisi tertinggi satu tahun di level USD53,73 per barel. Sementara, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) CLc1 minyak mentah turun 56 sen atau 1% menjadi USD50,79 per barel.

Badan Energi Internasional, pengawas energi barat mengatakan tidak jelas seberapa cepat pasokan minyak dunia bisa jatuh seiring dengan permintaan bahkan jika Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan produsen utama Rusia menyepakati penurunan produksi.

“Kita menemukan bahwa persetujuan untuk memangkas produksi, sementara semakin mungkin, mengingat tidak pastinya pasokan tinggi pada 2017,” kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

“Kesepakatan tersebut akan menjadi diri sendiri jika menginginkan harga minyak berkelanjutan yang lebih tinggi,” kata Goldman.

Minyak telah naik 13% dalam waktu kurang dari dua pekan setelah OPEC diusulkan melakukan pembatasan produksi pertama dalam delapan tahun. Namun, harga tetap di level setengah dari posisi tertinggi pada pertengahan 2014 di atas USD100 per barel.

Pejabat industri minyak dunia di Istanbul untuk Konferensi Energi Dunia mengeluarkan laporan tentang rencana produksi OPEC. Para menteri energi Arab Saudi dan Rusia berniat untuk melakukan konsultasi lebih lanjut di Riyadh setelah pertemuan di Istanbul, kata kementerian energi Saudi dalam sebuah pernyataan.

“Saya bisa mengatakan bahwa banyak negara dari luar OPEC bersedia untuk bergabung. Kita tidak berbicara tentang dukungan, kita berbicara tentang kontribusi,” ujar Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih kepada Reuters pada Selasa di Istanbul.

Tapi Igor Sechin, eksekutif minyak yang paling berpengaruh Rusia dan kepala Rosneft (ROSN.MM), kepada Reuters dalam sebuah wawancara perusahaannya tidak akan memotong atau menghentikan produksi minyak sebagai bagian dari perjanjian dengan OPEC.

Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan dasar skenario untuk Rusia akan meninggalkan arus keluaran produksi tidak berubah. OPEC bertujuan untuk mengurangi output sebanyak 700.000 barel per hari menjadi 32,5 juta untuk 33,0 juta barel per hari pada pertemuan kebijakan selanjutnya di Wina pada 30 November.

OPEC telah meminta produsen non-OPEC selain Rusia untuk berkontribusi, meskipun Amerika Serikat, penghasil minyak nomor satu di dunia, tidak akan menjadi bagian dari rencana tersebut.

Sumber : http://ekbis.sindonews.com

PT RIFAN FINANCINDO