Harga Minyak Dunia Turun, Imbas OPEC

o2uYxkU7c4RIFANFINANCINDO – Harga minyak dunia turun karena pelaku pasar hati-hati melakukan pembelian setelah pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) naik mendekati level USD50 per barel, dengan kekhawatiran pasokan minyak mentah yang tinggi dari produsen minyak yang tergabung dalam OPEC mengimbangi data hari sebelumnya yang menunjukkan permintaan bensin AS.

Seperti dikutip dari Reuters, Jumat (4/8/2017), harga minyak Brent turun 35% per barel ke level USD52,01 per barel. Sementara, harga minyak AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 56 sen menjadi USD49,03 per barela, harga minyak AS diperdagangkan pada sesi tinggi sebesar USD49,96 per barel.

Ekspor minyak mentah OPEC naik ke rekor tertinggi pada Juli, sebagian didorong oleh melonjaknya ekspor dari anggota kelompok Afrika tersebut, menurut sebuah laporan oleh Thomson Reuters Oil Research.

Minyak mentah AS tetap berada di bawah level USD50 per barel, ditutup oleh persediaan domestik yang kuat. “Pasar perlu tanda-tanda perbaikan yang terus berlanjut dalam gambaran persediaan minyak agar benar-benar menaikkan harga lebih tinggi,” kata Gene McGillian, direktur riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut.

Permintaan yang kuat di Amerika Serikat telah mendukung harga. Administrasi Informasi Energi AS melaporkan permintaan bensin mencapai rekor sebesar 9,84 juta barel per hari (bpd) pada pekan lalu dan turunnya persediaan minyak mentah komersial sebesar 1,5 juta barel menjadi 481,9 juta barel.

Para pelaku pasar mengatakan bahwa produksi tinggi oleh Organization of the Oil Exporting Countries membatasi kenaikan harga. OPEC dan produsen lainnya termasuk Rusia telah berjanji untuk membatasi produksi sebesar 1,8 juta bph sampai akhir Maret 2018 untuk membantu mendukung harga dan menarik persediaan.

Namun, produksi OPEC mencapai level tertinggi 2017 sebesar 33 juta barel per hari pada Juli, naik 90.000 bpd dari bulan sebelumnya, sebuah survei Reuters menunjukkan pekan ini, yang dipimpin pemulihan pasokan lebih lanjut dari Libya, salah satu negara yang dibebaskan dari kesepakatan tersebut.

“Pandangan kami terhadap pasar minyak adalah bahwa sebuah reli utama tidak mungkin terjadi pada 2017. Tidak ada penurunan produksi lebih lanjut atau kenaikan permintaan yang terus berlanjut, harga cenderung tetap rendah di level USD50 untuk sisa tahun ini,” kata analis National Australia Bank mengatakan dalam sebuah catatan.

Ada tanda-tanda bahwa industri minyak telah menyesuaikan diri dengan era harga rendah dan dapat memproduksi dan beroperasi pada tingkat yang sebelumnya tidak ekonomis. Bank investasi AS Goldman Sachs mengatakan pekan ini industri minyak telah berhasil menyesuaikan harga minyak sekitar USD50 per barel. ( sindonews.com )