Harga Minyak Dunia Jatuh Dihantam Penguatan USD

Harga Minyak Dunia Jatuh Dihantam Penguatan USDRIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Harga minyak mentah dunia melemah pada awal perdagangan hari ini terimbas keperkasaan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Ditambah peringatan Rusia yang akan membanjiri pasokan minyak Internasional, membuat harga minyak global kembali tertekan akhir pekan ini.

Dilansir Reuters, Jumat (13/5/2016) USD telah kembali pulih dengan kenaikan 2,46% untuk kemudian membuat harga minyak mengalami tekanan. Penguatan USD membuat impor bahan bakar menjadi lebih mahal bagi negara-negara yang menggunakan mata uang lain hingga berpotensi memukul permintaan.

Harga minyak mentah berjangka Brent tercatat ada di level USD47,71 per barel pada pukul 00.25 GMT, atau turun 37 sen dari sesi perdagangan sebelumnya. Sementara minyak berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan sebesar 41 sen menjadi USD46,29 per barel.

Meski begitu para analis memperkirakan bahwa penurunan stok minyak terutama di Amerika Utara diyakini bisa mencegah kejatuhan harga minyak lebih jauh lagi. “Dolar AS datang dengan penguatan untuk melawan sentimen positif karena penurunan produksi minyak AS,” ucap Bank ANZ.

Produksi minyak mentah AS berdasarkan data EIA telah jatuh 4,7% dari posisi tertinggi sepanjang 2016 yakni pada Januari sebesar 8,8 juta barel per hari (bpd). Ditambah menurut data informasi energi AS, output telah turun 8,4% dibandingkan posisi terbaik tahun 2015.

Penurunan stok minyak AS dipengaruhi kebakaran hebat di Kanada sehingga menghentikan produksi minyak mentah dari ladang-ladang minyak di sana, meski operator mengatakan mereka secara bertahap telah mulai kembali beroperasi. Namun produsen minyak Rusia mengeluarkan gagasan untuk menggenjor produksi di saat AS, Asia dan Afrika menyusut.

Sementara Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan kepada wartawan kemarin bahwa harga minyak diprediksi belum akan pulih dalam waktu dekat saat stok minyak global kelebihan 1,5 juta bpd dan pasar diyakini tidak akan mampu menyeimbangkan sampai kuartal pertama tahun 2017. “Pasar tidak akan bisa menjadi penyeimbang. Ramalannya adalah kelebihan pasokan terus berlanjut dan penurunan volume produksi lebih lambat dari prediksi analis,” katanya.

Novak mengatakan ia berharap Rusia dapat menghasilkan 540 juta ton (10,81 juta bpd) atau lebih banyak dari tahun ini dengan kenaikan 534 juta ton dibandingkan tahun 2015.

Sumber : http://ekbis.sindonews.com