Harga Minyak Berlanjut Menguat

minyak 3RIFAN FINANCINDO – Harga minyak dunia menyentuh angka tertinggi dalam dua tahun terakhir pada perdagangan Kamis (23/11), waktu Amerika Serikat. Di tengah naiknya produksi minyak AS, operasional salah satu pipa minyak utama dari Kanada yang terhenti akan menahan persediaan minyak dan mengarahkan pada pengetatan pasar.

Dikutip dari Reuters, Jumat (24/11), harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) naik US$0,54 menjadi US$58,56 per barel pada pukul 2 GMT, mendekati angka tertinggi dalam dua tahun terakhir yang terjadi pada penutupan sesi perdagangan lebih awal, US$58,58 per barel. Kenaikan juga terjadi pada harga minyak Brent yang tercatat US$63,55 per barel, nak tipis US$0,23 di atas penutupan sebelumnya. Volume perdagangan tercatat tipis karena ada libur perayaan Thanksgiving di AS.

Berhentinya operasional pipa minyak milik TransCanada Corp, Keystone, akibat kebocoran pekan lalu telah membantu mendongkrak harga minyak. Pasalnya, aliran 500 ribu barel perhari yang berkurang dari pipa tersebut menimbulkan ekspektasi bahwa persediaan minyak mentah AS di hub penyimpanan Cushing, Oklahoma, bakal berkurang.

“Persediaan berpotensi mengering tajam pada beberapa pekan ke depan mengingat tidak ada kepastian jadwal beroperasinya kembali pipa Keystone, sebuah saluran utama bagi aliran minyak Kanada ke jantung hub Cushing,” ujar Analis GMP First Energi Martin King di Calgary. Harga minyak juga mendapatkan dukungan dari penarikan persediaan minyak komersial di As.

Persediaan minyak mentah AS C-STK-EIA merosot 1,9 juta barel sepanjang pekan lalu dan telah turun 15 persen dari capaian tinggi di Maret ke level di bawah capaian tahun lalu. Pasar mengabaikan data yang menunjukkan produksi minyak mentah AS C-OUT-T-EIA telah melonjak 15 persen sejak pertengahan 2016 menjadi 9,66 juta barel per hari. Hal ini membantu AS yang tadinya negara pengimpor terbesar di dunia menjadi negara pengekspor utama.

Kenaikan produksi AS mengancam upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia, dan beberapa negara non-OPEC lainnya yang ingin memangkas pasokan dunia melalui pembatassan produksi. “Apapun yang OPEC bicarakan dan sepakati dapat menjadi sia-sia oleh aksi pemasok AS yang cenderung bakal menaikkan produksi di angka yang sama,” ujar Kepala Riset Komoditas Commerzbank Eugen Weinberg.

Kenaikan sekitar 800 ribu hingga 1 juta barel per hari pada produksi AS tahun depan, lanjut Eugene, bisa menggagalkan upaya OPEC untuk memperketat pasar. Sebagai informasi, OPEC bakal menggelar pertemuan dengan Arab Saudi pada 30 November mendatang untuk membahas kebijakan. Negara itu gencar melakukan lobi untuk memperpanjang komitmen pembatasan produksi yang sedianya berakhir pada Maret 2018 mendatang. (cnnindonesia.com )