Harga Minyak AS Terus Merangkak Naik

PT RifanFinancindo

PT Rifan Financindo

PT RIFAN FINANCINDO – Harga minyak mentah menanjak pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta). Pendorong kenaikan harga minyak adalah dirilisnya data dari otoritas energi di Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan bahwa terjadi penurunan stok minyak mentah.

Berdasarkan Wall Street Journal, Kamis (18/8/2016), harga minyak mentah jenis Light Sweet untuk pengiriman September ditutup naik 21 sen atau 0,5 persen ke angka US$ 46,79 per barel di New York Mercantile Exchange.

The U.S. Energy Information Administration merilis data bahwa stok minyak mentah turun 2,5 juta barel pada pekan kemarin. Sedangkan analis yang disurvei oleh Wall Street Journal memprediksi sebaliknya, stok minyak mengalami kenaikan 500 ribu barel.

Menurut American Petroleum Institute, yang merupakan organisasi produse- produsen minyak swasta di AS, penurunan stok minyak mentah tersebut membantu menyehatkan harga minyak mentah. Dalam beberapa pekan terakhir memang harga minyak mencoba untuk merangkak naik meskipun beberapa kesempatan gagal dan ditutup menurun.

“Penurunan persediaan minyak di kilang-kilang ini membantu mengurangi rasa takut kelebihan pasokan selama ini,” jelas Bart Melek, kepala analis komoditas TD Securities, Toronto. “Tetapi data yang tercatat pada minggu lalu tersebut belum bisa dikatakan sebagai sebuah tren,” tambahnya.

Sebelumnya, harga minyak juga terangkat naik karena adanya rencana pertemuan dari anggota negara-negara eksportir minyak (OPEC). Organisasi negara-negara pengekspor minyak berpeluang besar akan kembali menggelar pertemuan untuk membahas mengenai harga minyak. Ada usulan untuk tidak berproduksi sehingga bisa mendorong harga minyak ke level yang lebih tinggi.

Rencana tersebut akan digahas dalam pertemuan antara OPEC dengan negara-negara non-OPEC yang bakal berlangsung pada bulan depan atau September nanti. Sumber OPEC di Reuters mengungkapkan bahwa Arab Saudi sangat menginginkan agar harga minyak bisa di atas dari kisaran yang ada saat ini.

OPEC juga akan bertemu dengan Rusia. Pertemuan tersebut akan dilaksanakan pada Oktober nanti. Dalam pertemuan tersebut juga akan membahas mengenai kestabilan harga minyak. ( http://bisnis.liputan6.com/ )

Cadangan AS Turun, Minyak Tahan Kenaikan Terpanjang Dalam Setahun

 

Minyak tahan kenaikan terpanjangnya dalam lebih dari satu tahun terkait stok minyak mentah dan bensin AS menurun, menurunkan ketergantungan persediaan yang berada di tingkat musiman tertinggi dalam setidaknya dua dekade terakhir.

Minyak berjangka sedikit bergerak di New York setelah menguat lebih dari 12 persen selama lima sesi sebelumnya. Persediaan minyak mentah tengah anjlok dalam lima minggu, sementara stok bahan bakar motor jatuh untuk minggu ketiga, menurut laporan dari Energy Information Administration. OPEC berada di jalur untuk menyetujui kesepakatan pengurangan produksi karena Negara penghasil terbesarnya sudah memproduksi lebih sedikit, Chakib Khelil, mantan presiden kelompok tersebut, menyatakan dalam sebuah wawancara Bloomberg.

West Texas Intermediate untuk pengiriman September berada di $ 46,85 per barel di New York Mercantile Exchange, menguat 6 sen, pada 08:11 pagi Hong Kong. Kontrak naik 21 sen menjadi ditutup di $ 46,79 pada hari Rabu untuk kenaikan hari kelima, rentang waktu terpanjang sejak April 2015. Jumlah volume perdagangan sekitar 46 % di bawah rata-rata 100-harinya.

Brent untuk pengiriman Oktober kehilangan 10 sen, atau 0,2 persen, ke $ 49,75 per barel di London-based ICE Futures Europe exchange. Kontrak pada hari Rabu naik 62 sen, atau 1,3 persen, menjadi ditutup pada $ 49,85 mencatatkan kenaikan sebesar 13 persen selama lima sesi. Minyak mentah acuan global diperdagangkan pada $ 2,21 untuk premium WTI pengiriman Oktober. ( Bloomberg )