Rifan Financindo ~ Harga Minyak Anjlok ke Level Terendah Sejak 25 April

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO

RIFAN FINANCINDO – Harga minyak anjlok ke level terendah dalam tiga bulan, sejak 25 April 2016, dikarenakan kekhawatiran melimpahnya produksi dan cadangan minyak dunia.

Dilansir CNBC, Selasa 26 Juli 2016, data dari firma analis pasar, Genscape, menunjukkan cadangan minyak Amerika Serikat (AS) naik 1,1 juta barel di Cushing, Oklahoma, pada pekan lalu. Investor menjadi tidak optimistis terhadap kondisi pasar.

Harga minyak telah merosot tajam dipicu oleh meningkatnya aktivitas pengeboran minyak dan penguatan mata uang dolar AS. Hal itu menambah sentimen negatif di pasar.

Firma investasi Morgan Stanley, melaporkan produk olahan minyak kelebihan pasokan, sementara permintaan minyak mentah anjlok karena permintaan produk lemah.

Di perdagangan internasional, harga minyak Brent kemarin diperdagangkan di US$44,65 per barel, turun US$1,04 atau 2,28 persen. Harga minyak Brent sempat turun ke level terendah di US$44,55 per barel.

Sementara harga minyak AS pada perdagangan kemarin ditutup turun US$1,06 atau 2,4 persen menjadi US$43,13 per barel. Pada?awal perdagangan hari itu harga minyak WTI sempat menyentuh level terendah sejak April di US$43 per barel.? ( bisnis.news.viva.co.id )

Saham-saham energi yang anjlok memberikan dampak negatif pada indeks Dow Jones. Saham Chevron turun drastis 2,5 persen, saham Exxon Mobil merosot 1,9 persen, dan UnitedHealth tergelincir 1,4 persen.

EIA pekan lalu melaporkan bahwa persediaan minyak mentah telah turun lebih rendah dari yang diperkirakan sebanyak 2,3 juta barel, dan bahwa pasokan bensin telah naik selama musim mengemudi di AS, waktu puncak permintaan.

Laporan mingguan EIA menunjukkan bahwa persediaan bensin AS membukukan kenaikan mengejutkan sebanyak 911.000 barel selama pekan lalu, menandai tingkat tertinggi sejak April.

“Jumlah bensin sangat luar biasa sekarang, sangat sulit untuk menyematkan skenario ‘bullish’ sejauh penyimpanan berlimpah.” Para analis mengatakan dolar yang kuat juga menempatkan tekanan pada permintaan minyak berjangka, karena ini secara efektif menaikkan harga bagi pemegang mata uang lainnya.

Peningkatan jumlah rig minyak mentah AS yang beroperasi juga telah mendorong kekhawatiran pasar bahwa kelebihan pasokan akan terus bertahan.

Perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan pada Jumat bahwa jumlah rig yang beroperasi di ladang-ladang AS naik 14 rig menjadi 371 rig dalam pekan yang berakhir 22 Juli, kenaikan mingguan keempat berturut-turut. ( http://economy.okezone.com/ )